Menelusuri Jejak KTH Rindu Alam dan KT Satria Mandiri

0
2 years ago
Menelusuri Jejak KTH Rindu Alam dan KT Satria Mandiri

Jumat, 22/09/2023, 10.30 WIB 

Kondisi lahan hutan yang dikelola anggota KTH Rindu Alam, tumpang sari tanaman kopi di bawah tegakan pohon puspa, jengkol, alpukat, dan beberapa jenis pohon endemik/buah lainnya. LATIN/Adinda Egreina P.

 

BOGOR, LATIN.OR.ID – Salah satu tim riset dari Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) telah kembali dari Cianjur. Sembilan hari menapaki Desa Pakuon dan Desa Ciputri bertemu dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Rindu Alam dan Kelompok Tani (KT) Satria Mandiri, dengan maksud melihat dan meneliti kondisi aktual di lapangan mengenai kesetaraan gender dan pendampingan terhadap Perhutanan Sosial. Sama halnya dengan pemegang Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial skema Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin-KK) dalam perjalanan riset LATIN ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, areal kerja kedua kelompok tani ini juga menjadi bagian dari perubahan tata kelola kawasan hutan di Pulau Jawa yaitu kebijakan Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK).

Pada 13 – 21 September 2023, LATIN bekerjasama dengan Green Initiative Foundation (GIF) untuk melakukan penelitian pada KTH Rindu Alam dan KT Satria Mandiri yang berada di Kabupaten Cianjur atau tepatnya masing-masing di Desa Pakuon Kecamatan Sukaresmi dan Desa Ciputri Kecamatan Pacet. Penelitian kolaboratif ini untuk menggali sejarah, keterlibatan pendamping serta pembagian peran antara perempuan dan laki – laki dalam pengelolaan lahan di hutan ataupun pembagian peran dalam keseharian baik sebelum maupun sesudah mendapatkan perizinan Perhutanan Sosial.

KTH Rindu Alam, telah mendapatkan SK Perhutanan Sosial skema Kulin-KK pada tahun 2019 dengan luas 56 Ha dan 30 KK penerima SK (25 KK diantaranya terlibat aktif mengelola lahan). Sedangkan KT Satria Mandiri telah mendapatkan SK Perhutanan Sosial skema Kulin-KK lebih dulu daripada KTH Rindu Alam, yakni pada tahun 2018 dengan anggota aktif saat ini sebanyak 21 KK dengan luas 21,10 Ha.

Selama terbentuknya KTH Rindu Alam dan KT Satria Mandiri, peran pendamping dalam membersamai perkembangan petani, baik dari segi pemberian pelatihan, motivasi maupun pemberian akses pada modal dan pasar, berkontribusi pada konsistensi dan semangat petani. Namun tetap saja ditemukan kendala yang dihadapi oleh petani di dua lokasi tersebut, tanaman kopi yang ditanam saat ini masih dalam usia muda dan belum produktif terlebih kopi jenis arabika —yang membutuhkan perawatan khusus dibandingkan jenis robusta— sehingga belum semua lahan Perhutanan Sosial dapat mencukupi kebutuhan harian keluarga. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan modal dalam mengelola lahan Perhutanan Sosial sekaligus kebutuhan keluarga, sebagian dari anggota kelompok tani harus bekerja di luar lahan Perhutanan Sosial. Tetapi,  terlepas dari kendala tersebut, masyarakat masih merasakan adanya peran penting dari hutan antara lain sebagai ekosistem yang memberi udara sejuk, air bersih, dan penahan longsor.

 

Penulis: Adinda Egreina, Bambang Tri Daxoko dan Firman Dwi Yulianto

Editor: Sastiviani Cantika

Leave a Reply