SESORE Academia Movement: Building Food System Resilience Through Social Forestry

0
1 year ago
SESORE Academia Movement: Building Food System Resilience Through Social Forestry

Senin, 12 Desember 2023

LATIN bersama Singapore University of Social Sciences (SUSS)  dan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University dalam kegiatan SESORE Academia Movement. (Foto: LATIN/Taufik Saifulloh)

Agenda besar Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) dalam mengajak perguruan tinggi berkontribusi dan bersinergi untuk membawa pesan penting Sosial Forestri terimplementasi pada rangkaian SESORE Goes to Campus. Selama periode tahun 2023, LATIN membuka peluang membangun gagasan Sosial Forestri melalui kolaborasi dengan 3 (tiga) perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri seperti Universitas Tanjungpura, Universitas Mataram dan Singapore University of Social Sciences (SUSS).

 

(16/12/2023) LATIN telah menyelenggarakan SESORE Academia Movement bersama dengan Singapore University of Social Sciences (SUSS), didukung oleh Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University Dengan mengusung tema Building Food System Resilience Through Social Forestry Scheme. Kegiatan ini menggunakan pendekatan experiential learning dengan melibatkan 22 orang mahasiswa SUSS dan 10 orang mahasiswa IPB University dari berbagai disiplin keilmuan. Pembelajaran dilakukan secara langsung di Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, melibatkan anggota kelompok Gapoktan Sawah Lega dan lembaga usaha lokal Patani Coffee. Proses yang dirancang ini memungkinkan terjadinya alih pengetahuan dan  produksi pengetahuan bersama antara mahasiswa berbagai disiplin ilmu, petani, masyarakat pelaku Sosial Forestri, dosen, dan Latiners.

 

Sastiviani Cantika selaku Deputi Direktur LATIN mengatakan “Konsep Sosial Forestri telah berkembang selama empat dekade terakhir, namun pengelolaan pengetahuan Sosial Forestri belum banyak tersebar dalam narasi publik. Bonus demografi yang akan Indonesia hadapi di masa mendatang juga menjadi tantangan untuk arah perubahan. Salah satu rekomendasi strategis yang sangat penting adalah menghubungkan Sosial Forestri dengan generasi muda sebagai generasi penerus tata kelola hutan yang lebih mensejahterakan dan melestarikan.”

 

Kegiatan diskusi pengetahuan Sosial Forestri di Kopi Patani. (Foto: LATIN/Taufik Saifulloh)

 

Kegiatan diawali dengan briefing dan perkenalan, ditemani kopi dan seduhan teh daun kopi (kawa) minuman khas Indonesia. Para peserta dibekali  handbook yang berisikan materi dan panduan peserta dalam rangkaian kegiatan belajar tentang membangun ketahanan pangan dan Sosial Forestri. Pada rangkaian kegiatan SESORE Academia movement, peserta diberi tugas belajar, mengamati, dan mempraktikkan aktivitas petani dalam mengelola lahan dalam konsep agroforestri melalui jalur belajar 4 pos. Keempat lokasi  dibagi berdasarkan  point of interest yang meliputi: Sistem agroforestri dalam skema Sosial Forestri; Kegunaan tanaman hutan untuk tanaman pangan dan produk ramah lingkungan; pengolahan kopi secara tradisional dari hulu hingga hilir, Inovasi dalam teknik sangrai dan penyeduhan kopi tradisional Indonesia.

 

Empat tema dan topik pembelajaran tersebut terimplementasi dalam sebuah experiential Learning pada masing-masing lokasi pembelajaran. Peserta dengan jalur pos 1 diajak untuk berjalan menyusuri lahan kelola Gapoktan sambil belajar mengenai  sistem agroforestri sekaligus mengenali berbagai tanaman yang ditanam dan dimanfaatkan dalam sistem agroforestri. Di bawah tajuk pepohonan  para mahasiswa belajar banyak tentang penggunaan lahan, jenis pohon yang ditanam, konteks agroforestri secara sains seperti jenis-jenis tanaman, relasi alam, sosial dan pemanfaatan sumber daya, serta mencicipi buah hasil panen petani seperti durian, duku, dan manggis.

 

Peserta pada pos 2 menyusuri lahan agroforestri untuk belajar mengenai fungsi tanaman hutan untuk pangan dan ekonomi. Para peserta mencari bahan-bahan pangan dan material  yang bisa dimanfaatkan sebagai kerajinan yang bisa menambah nilai, fungsi dan bermanfaat secara ekonomi. Di kelompok ini, mahasiswa diberikan pengalaman untuk membuat sedotan berbahan dasar pakis hutan yang telah mereka panen, sebuah inovasi sedotan yang diciptakan  oleh Pak Arifin selama perjalanannya di hutan. Dari sedotan pakis ini mahasiswa banyak belajar terkait keuntungan, dampak dari penggunaan sedotan pakis hutan, hingga diskusi terkait dampak penggunaan sedotan buatan pabrik yang berasal dari bahan plastik maupun kertas. Para mahasiswa juga diajarkan membuat kerajinan berupa bangku yang diberi nama “bangku perubahan iklim”. Bangku ini berasal dari dahan pohon yang tidak dimanfaatkan dengan baik yang biasanya hanya dijadikan kayu bakar. Penamaan “Bangku Perubahan Iklim” dipilih karena dalam pembuatan bangku ini tidak memerlukan mesin besar untuk menebang pohon dan memotong kayu serta tidak ada satupun pohon yang ditebang dalam pembuatan bangku ini. Kerajinan lain yang termasuk kedalam produk hasil hutan yaitu anyaman dari bambu dan rotan. Bambu dan rotan memiliki daya tumbuh yang cepat dan dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk turunan. Pemanfaatan ranting ini sangat inovatif, sederhana,  dan tidak membutuhkan skill khusus. Selain belajar dan membuat kerajinan, kelompok ini juga dikenalkan untuk mengetahui jenis dan manfaat berbagai tanaman pangan yang ada di lahan agroforestri seperti singkong, kecombrang, lada, nangka, cempedak, pisang, pakis, cabai dan beberapa tanaman pangan lainnya.

 

 

Kegiatan di lahan agroforestri untuk belajar mengenai fungsi tanaman hutan untuk pangan dan ekonomi. (Foto: LATIN/Firman Dwi Yulianto)

 

Pada pos 3 peserta belajar tentang pengolahan kopi secara tradisional dari hulu hingga hilir melalui pembelajaran tentang budidaya kopi dan pemrosesan pasca panen secara natural-tradisional. Perjalanan kelompok 3 dimulai dari  mengenali berbagai jenis bibit kopi dan  menanam menggunakan  kemasan bekas.  Mahasiswa diajak ke kebun kopi untuk  belajar tentang empat jenis tanaman kopi yang memiliki karakteristiknya masing-masing, yakni robusta, arabica, excelsa, dan liberika dengan mengidentifikasi karakteristik fisik tanaman kopi, perawatan dan teknik pemanenan kopi yang tepat. Para mahasiswa juga diberikan pembelajaran terkait metode pengolahan pasca panen,  pengeringan kopi dan pengupasan kopi secara tradisional.

 

Pada pos 4, kegiatan berfokus pada pembelajaran tentang pengolahan kopi secara tradisional dari green bean hingga menjadi kopi siap seduh. Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan belajar berbagai jenis kopi yang ditanam dengan sistem agroforestri, mengenali biji green bean kopi yang baik dan tidak, serta  alat-alat pemrosesan kopi yang masih tradisional di rumah produksi Kopi Patani. Kopi, salah satu tanaman agroforestri dipilih menjadi komoditas yang dipelajari secara khusus karena banyak dikembangkan pada kawasan agroforestri dan memiliki potensi yang sangat baik untuk kontribusi penambahan pendapatan masyarakat pengelola hutan.

 

Sharing session hasil dari experiential learning bersama Rita Padawangi, salah satu dosen dari SUSS. (Foto: LATIN/Taufik Saifulloh)

 

Perjalanan dari  experiential learning ini berakhir di Pendopo LATIN dengan diskusi bersama tentang hasil-hasil pembelajaran di lapangan mengenai relasi Sosial Forestri dengan strategi ketahanan pangan. Rita Padawangi, salah satu dosen dari SUSS menjelaskan kepada para mahasiswa bahwa “seperti yang dilakukan oleh kelompok yang belajar meramban hutan untuk mencari pakis dan belajar membuat sedotan dari pakis, dari Sosial Forestri, masyarakat dapat meramban hutan selama tidak merusak ekosistem hutan, dan masyarakat dapat menghasilkan kebutuhan ekonomi bersamaan dengan hidup berdampingan atau selaras dengan hutan”. Dari pos 3, para mahasiswa belajar tentang pemanfaatan ruang di bawah tajuk pohon yang bisa dimanfaatkan untuk menanam komoditas seperti kopi dan tanaman lainnya. Selain dapat memanfaatkan hasil dari pohon buah-buahan yang ditanam, masyarakat juga mendapatkan hasil tambahan dari komoditas yang ditanam di bawah pohon seperti kopi, kita biasa menyebutnya dengan sistem agroforestri. Agroforestri merupakan wujud kontribusi hutan dalam menyediakan pangan dari hasil-hasil bercocok tanam tanaman pangan dan jenis tanaman lainnya di bawah tegakan. Masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangganya sendiri dan masyarakat sekitar dari hutan yang tersedia, selain itu mereka dapat meningkatkan pendapatannya dari komoditas yang mereka jual ke pasar.

 

Kesempatan berdiskusi di Pendopo LATIN juga menghadirkan Martani Organik yang menyediakan berbagai minuman herbal dari komoditas-komoditas Sosial Forestri seperti jahe, cengkeh, rosella, kapulaga, telang dan tanaman herbal lainnya. Martani organik juga berbagi pengetahuan kepada mahasiswa SUSS tentang bagaimana masyarakat di dalam dan di sekitar hutan membudidayakan banyak sekali komoditas herbal dan komoditas lainnya, dan kehidupan mereka bergantung pada pemasaran dari produk-produk tersebut. Masyarakat umum yang tinggal jauh dari hutan juga bisa berkontribusi mendukung petani hutan dengan menggunakan produk-produk herbal seperti di Martani Organik.

 

Penulis: Firman Dwi Yulianto

Penyunting: Sastiviani Cantika/Annisa Aliviani

Leave a Reply