Pohon yang Menyehatkan

 #3

This image has an empty alt attribute; its file name is image-12.png


Setiap tanggal 28 November, Indonesia merayakan Hari Menanam Pohon.  Dengan slogan One Man One Tree diharapkan Indonesia mampu menyumbangkan pohon-pohon baru ratusan juta setiap tahun.  Bahkan pada 28 November 2011, penanaman satu miliar pohon, atau one billion Indonesian trees for the world telah mencapai 827 juta (80 persen) batang pohon. Jumlah itu setara dengan 4,9 juta ton Co2.  Berapakah pohon yang ditanam hingga kini? Tidak ada data yang pasti. 

Ada seorang perempuan perkasa yang pernah dianugerahi Right Livelihood Award (1984) dan Indira Gandhi Peace Prize (2006) mengatakan “It’s the little things citizens do. That’s what will make the difference. My little thing is planting trees.” Ada hal kecil dan sepele yang bisa dilakukan oleh seorang warga negara dan akan berdampak besar.  Hal kecil itu adalah menanam pohon.

Pada tahun 2004, ia menjadi wanita asal Afrika pertama yang dianugerahi Penghargaan Perdamaian Nobel untuk kontribusinya dalam bidang pembangunan berkelanjutan, demokrasi, dan perdamaian. Nama perempuan itu adalah Dr. Wangari Muta Maathai lahir di Nyeri, Kenya, 1 April 1940.  Benua Afrika kini merupakan salah satu benua yang progresif dalam menanam pohon.

Kerusakan hutan Indonesia masih terjadi hingga hari ini.  Indonesia masuk dalam daftar 10 negara dengan angka kehilangan hutan hujan tropis tertinggi pada 2018. Pada tahun tersebut Indonesia kehilangan lahan hutan hujan primer tropis seluas 339.888 hektare (ha). Angka tersebut berada di urutan ketiga setelah Brasil (1,35 juta ha) dan Kongo (481.248 ha). Ekspansi lahan perkebunan sawit, terjadinya kebakaran hutan, serta pengalihan lahan hutan untuk permukiman menjadi pemicu terjadinya deforestasi.

Setiap penebangan pohon dalam satu hektare mengakibatkan lebih 70% kerusakan berat pada pohon tinggal. Pada setiap pohon tua yang ditebang coba bayangkan berapa lama bisa menumbuhkannya? Tetapi dalam sekejap.  Setiap menit dunia kehilangan hutan seluas 30 kali lapangan bola.  Setiap satu juta hektare per bulan. Pada 2015 Jurnal Nature memuat hasil penelitian untuk mengetahui “Ada berapa banyak pohon di seluruh dunia?” dan “Berapa banyak pohon yang ditebang setiap tahun?” Penelitian yang dipimpin oleh Thomas Crowther dari Netherlands Institute of Ecology ini merupakan hasil dari kombinasi citra satelit, penghitungan di darat dan permodelan komputer.  Hasilnya? Di dunia terdapat tiga triliun pohon.   Setiap tahun 15,3 milyar pohon yang ditebang.

Bersama dengan hancurnya hutan, hilang juga jasa ekosistem hutan. Jasa ekosistem adalah kontribusi ekosistem bagi kesejahteraan manusia (human well-being). Kesejahteraan dipahami sebagai kebebasan pilihan dan tindakan, keamanan, kesehatan, hubungan sosial, dan sejumlah kebutuhan pokok untuk kehidupan yang baik (Schröter et al., 2019). Minat dalam konsep jasa ekosistem telah meningkat dalam ilmu pengetahuan dan kebijakan selama dua dekade terakhir.

Jasa ekosistem ini meliputi penangkapan dan perosotan karbon, stabilitas cuaca, perlindungan badai dan banjir, siklus hara, produk non-pangan, pengendalian penyakit, pembentukan dan stabilitas tanah, pengendalian hama alami, penyerbukan tanaman, pemurnian air dan fitrasi, bahan makanan liar, rekreasi luar ruangan/alam bebas, sumber daya genetik untuk penemuan farmasi, inspirasi budaya, dan udara bersih.

Termasuk jasa dari pohon-pohon yang memberi manfaat luar biasa untuk kesehatan. Jasa inilah yang disebut forest bathing atau shinrin-yoku dalam bahasa Jepang. Beberapa penelitian dilakukan untuk menyoroti efek pepohonan hutan secara kesehatan psikologis dan fisiologis.

Margaret M. Hansen, Reo Jones dan Kirsten Tocchini dari School of Nursing and Health Professions, University of San Francisco, San Francisco, Amerika Serikat mengidentifikasi 64 penelitian yang mengkonfirmasi tentang manfaat secara physiological dan psychological shinrin-yoku atau forest bathing ini.  Temuan mereka dituangkan dalam artikel yang berjudul Shinrin-Yoku (Forest Bathing) and Nature Therapy: A State-of-the-Art Review dan dimuat dalam International Journal of Environmental Research and Public Health (Int. J. Environ. Res. Public Health 2017, 14, 851).  Mereka mereview paper dalam beragam jurnal yang relevan, dimuat dalam rentang waktu antara 2007-2017.  Beberapa penelitian yang dihimpun antara lain:

Studi yang menunjukkan lingkungan alam berdampak positif langsung pada beberapa aspek kesehatan dan kesejahteraan (Bowler, 2010, penelitian di Inggris); Peserta terapi hutan (Forest Therapy) melaporkan penurunan yang signifikan dalam kesakitan, depresi dan peningkatan QOL (Quality of Life). Terapi hutan merupakan intervensi yang efektif untuk meringankan psikologis dan nyeri fisiologis (Han, 2016, Korea); Peneliti memaparkan berbagai data ilmiah, yang dinilai sebagai indikator fisiologis, seperti aktivitas otak, aktivitas saraf otonom, aktivitas endokrin, aktivitas kekebalan terakumulasi dari lapangan dan percobaan laboratorium. NT (Natural Therapy) memainkan peran penting dalam obat pencegahan sakit di masa depan. NT didefinisikan sebagai “seperangkat praktik alami bertujuan untuk mencapai ‘efek medis pencegahan’ melalui paparan rangsangan alami yang membuat tubuh dalam keadaan relaksasi fisiologis dan meningkatkan fungsi kekebalan yang melemah untuk mencegah penyakit (Song, 2016, Jepang);

Hasil penelitian lainnya menunjukkan aktivitas otak di area prefrontal pada kelompok yang berjalan di kawasan hutan itu jauh lebih rendah daripada kelompok yang berjalan di wilayah kota; konsentrasi kortisol saliva kelompok yang berjalan di wilayah hutan secara signifikan lebih rendah dari grup dalam area kota sebelum dan sesudah menikmati setiap lanskap yang berbeda itu. Kortisol merupakan hormon steroid yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Hormon ini dikeluarkan saat terjadi respon terhadap ACTH (adrenocorticotopric hormone) yang diproduksi oleh kelenjar pituitary dekat otak. Kortisol adalah hormon utama yang berpengaruh pada saat stress dan respon respon alami dan protektif terhadap serangan atau bahaya tertentu dalam tubuh.  

Hasil pengukuran fisiologis menunjukkan Shinrin-yoku bisa dengan efektif merileksasikan tubuh dan semangat orang (Park, 2007, Jepang).

Sejumlah penelitian itu memberi konfirmasi yang tidak terbantahkan tentang manfaat jasa ekosistem hutan terhadap kesehatan dan kebahagiaan manusia.  

Sementara itu antara April 2010 hingga Desember 2014 the Silvanus Trust dan the University of Plymouth bekerjasama dengan the Forestry Commission, the Neroche Scheme and the Woodland Trust meluncurkan sebuah proyek yang berjudul Good from Woods (GfW).  GfW bertujuan untuk mengeksplorasi dampak sosial dan kesejahteraan dari kegiatan melintasi di wilayah hutan Barat Daya Inggris. Konsep kesejahteraan (well-being) dimasukkan sebagai bagian penting kebijakan publik tentang kesehatan di Inggris. Ini dilakukan sebagai gerakan untuk mereformasi struktur kesehatan masyarakat dan telah menjadi intrinsik modernisasi layanan kesehatan.  Kerangka kesehatan masyarakat mencerminkan agenda dan kebutuhan komunitas lokal yang lebih luas.

GfW didasarkan pada premis bahwa hutan sebagai penyedia jasa ekosistem bisa mendorong peningkatan well-being. Proyek tersebut mengakui dan mendukung nilai lingkungan dan pengetahuan sosial setempat. Beberapa manfaat jasa ekosistem hutan yang berhubungan dengan GfW telah dihimpun dalam waktu yang cukup lama. Yang lainnya sedang dalam proses pengujian konteks dengan yang lebih baru agar manfaat kesehatan dan kesejahteraan melalui interaksi dengan alam bisa lebih dikembangkan.  Menata kebijakan kesehatan publik bisa dimulai dengan menata lingkungan, menata hutan dan wilayah-wilayah jalur hijau.

Seperti beberapa penelitian yang dikutip di atas sekarang banyak data yang membuktikan bahwa shinrin-yoku dapat:

  • Mengurangi tekanan darah
  • Menurunkan stres
  • Meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan metabolisme
  • Menurunkan kadar gula darah
  • Meningkatkan konsentrasi dan daya ingat
  • Menghilangkan depresi
  • Memperbaiki rasa nyeri
  • Meningkatkan energi
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan peningkatan jumlah sel pembunuh alami (NK, natural killers) tubuh  
  • Meningkatkan produksi protein anti kanker
  • Membantu Anda menurunkan berat badan

Bukti-bukti ilmiah telah banyak ditunjukkan bahwa berada di atmosfer hutan dan menggunakan semua indra Anda berdampak baik untuk kesehatan. Karena itu menjadi alasan yang sangat bagus untuk belepotan selama berada di hutan!

Pohon membantu kita berpikir lebih jernih, lebih kreatif, dan membuat kita lebih baik dan lebih murah hati.

Jadi bagaimana dengan kesehatan emosional di hutan, peningkatan kesejahteraan mental yang langsung kita rasakan saat berada di alam? Hasil penelitian menunjukkan bahwa berjalan di alam tidak hanya mengurangi perasaan cemas dan emosi negatif lainnya, tetapi juga meningkatkan pikiran positif. Dengan kata lain, berjalan di alam dapat membantu kita mengubah cara berpikir kita tentang berbagai hal dan melihatnya dengan lebih baik.  Maka beruntunglah kampus-kampus, sekolah, perkantoran atau pemukiman yang mempunyai kerindangan pepohonan. 

Alam juga memiliki kekuatan untuk membantu kita memecahkan masalah dan menerobos hambatan kreatif. Penelitian di universitas Utah dan Kansas melihat efek pada keterampilan penalaran kreatif dengan menyatu di alam selama beberapa hari. Para peneliti menyimpulkan bahwa ‘ada keuntungan kognitif yang nyata dan terukur yang bisa diwujudkan jika kita menghabiskan waktu benar-benar tenggelam dalam lingkungan alam’, dan menemukan bahwa menghabiskan waktu di alam dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan kreativitas hingga 50 persen.

Inilah betapa pentingnya, sekali lagi, memberi apresiasi dan nilai yang pantas untuk jasa ekosistem. 

Kebijakan baru Model Multiusaha Kehutanan ini mestinya bukan hanya untuk kepentingan jangka pendek tetapi juga sebagai bagian visi pengelolaan hutan di Indonesia. Model multiusaha mengintegrasikan pemanfaatan hasil hutan kayu dengan hasil hutan bukan kayu berupa tanaman atau komoditas semusim, antara lain melalui pola agroforestry atau silvopastur, termasuk jasa ekosistem atau jasa lingkungan.  Model multiusaha ini adalah paradigma baru pengelolaan hutan dari timber management menjadi forest ecosystem management.  Ekstraksi kayu harus mulai ditinggalkan. 

Dunia memiliki total luas hutan 4,06 miliar hektar (ha), yaitu 31 persen dari total luas daratan. Kawasan hutan ini berarti setara dengan 0,52 ha per orang – meskipun hutan tidak didistribusikan secara merata di antara masyarakat dunia atau secara geografis. Domain tropis memiliki proporsi hutan terbesar di dunia (45 persen), diikuti oleh domain boreal, subtropis, dan subtropis. Lebih dari setengah (54 persen) hutan dunia hanya ada di lima negara – Federasi Rusia, Brasil, Kanada, Amerika Serikat, dan Cina.

Pada awal pertemuan tahunannya pada Januari 2020, The World Economic Forum meluncurkan prakarsa global untuk menanam, merawat dan melindungi 1 trilliun trees pohon di seluruh dunia–sebuah upaya untuk mengembalikan kelimpahan keanekaragaman hayati dan berjuang melawan perubahan iklim. Pada Jan 2020 penduduk bumi mencapai 7.8 juta. Itu artinya setiap orang mempunyai kewajiban menanam dan memelihara 128 pohon. 

Satu triliun menanam pohon adalah gerakan ambisius yang menjadi pertaruhan warga dunia. UNEP yang pernah mencanangkan program serupa pada tahun 2006, hingga akhir 2019 (13 tahun) berhasil menanam 13,6 miliar pohon, dengan Tiongkok, India dan Ethiopia sebagai penyumbang terbanyak dengan masing-masing 2,8; 2,5; dan 1,7 miliar pohon.  Satu tahun hanya menanam satu milyar pohon.  Jika UNEP (United Nations Environment Programme) saja memerlukan satu tahun untuk menanam 1 milyar pohon, maka mencapai 1 trilyun pohon diperlukan waktu selama 1000 tahun.

Tetapi seperti kata pepatah Cina, waktu terbaik untuk menanam pohon adalah duapuluh tahun yang lalu.  Waktu yang terbaik berikutnya untuk menanam pohon adalah hari ini.  Berapakah yang Anda tanam hari ini? Sudahkah mencapai 128 pohon?

28 November 2020,

Dwi R. Muhtaman