Pesona Bumi Karuhun
Lambaian dan decitan batang-batang bambu terus bergema di telinga, seolah menyambut kedatangan kami di tanah sunda. Terik matahari tak membuat gentar langkah kami untuk terus menapaki sudut demi sudut dari Bumi Karuhun. Suara tonggeret yang terus bersaut dengan aliran sungai yang jernih di bawahnya, menambah kesan betapa asrinya kawasan ini. Bangunan khas kayu dengan perapiannya, memutar balikkan fikiran kami akan betapa eloknya kawasan ini pada masanya.
Suasana alam yang begitu asri membuat diri lupa, akan langit sore yang telah berganti malam. Suara tonggeret yang semakin nyaring menjadi lantunan irama teman santap malam kami di sana. Hidangan khas sunda, nasi liwet kunyit dan lauk amis yang dilengkapi sambal bledak dan daun poh-pohan khas bumi sunda, menemani malam kami sembari berbincang ringan antar sesama, hingga tak terasa malam sudah berlalu. Esok paginya kami disuguhkan oleh pemandangan dan pesona sungai yang tepat di bawah wilayah Bumi Karuhun. Sungai yang begitu jernih mengalir melewati batuan alam yang kokoh, membuat raga kami ingin terus tetap singgah, menghilangkan semua lelah.
Bumi Karuhun berlokasi di Desa Gede Pangrango, berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sungai yang mengalir, berasal dari mata air dari hulu gunung tersebut. Keindahan alam dan potensi dari Bumi Karuhun hampir tidak terdengar dibandingkan destinasi-destinasi wisata yang terdapat di Kawasan Gunung Gede Pangrango. Hal tersebut yang mendukung para generasi penerus Bumi Karuhun ingin mengembangkan wilayahnya, melalui pengelolaan sumberdaya alam yang lebih baik sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Bumi Karuhun tidak lepas dari sejarah bagaimana ia didirikan.
Sejarah Bumi Karuhun
Sejarah munculnya Yayasan Bumi Karuhun, diawali dengan peristiwa berpulangnya sosok kedua orang tua dari Dian Achmad Kosasih, yang mana merupakan generasi penerus yang pada saat ini terus mengembangkan Yayasan Bumi Karuhun. Diawali oleh sosok ayah yang meninggal pada tahun 1998 dan disusul sosok ibu pada tahun 2004. Mulai sejak meninggalnya sosok ibu hingga tahun 2020, areal Bumi Karuhun ditelantarkan dan tidak terawat dengan baik karena tuntutan pekerjaan yang sedang dilakukan para generasi penerusnya.
Berdasarkan keterangan dari wawancara dengan Dian Achmad Kosasih yang mana merupakan generasi penerus Bumi Karuhun. Beliau menyampaikan bahwa pemberian nama ‘Bumi Karuhun’ memiliki arti yaitu rumah leluhur atau orang tua. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada leluhurnya serta menjadi bekal amal ibadah kepada leluhurnya. Berawal dari ajakan Dian Achmad Kosasih kepada sahabat baiknya, Adji Santoso ke Bumi Karuhun. Kedua sahabat tersebut berbincang dan berdiskusi mengenai Bumi Karuhun. Pada hasil diskusi mereka mengenai potensi Bumi Karuhun, akan sangat luar biasa apabila dikembangkan. Pada akhirnya kedua sahabat tersebut menciptakan gagasan tentang bagaimana cara memanfaatkan dan mengembangkan kawasan dari peninggalan orang tuanya tersebut, agar memiliki manfaat lebih luas dan berguna bagi masyarakat sekitar.
Bicara mengenai bambu
Jika kita berbicara mengenai bambu, sebagian besar dalam benak dan pikiran kita adalah sebatas sumber daya alam yang dipandang sebelah mata dan sering dijudge sebagai material yang sering digunakan oleh masyarakat kalangan bawah, terutama masyarakat pedesaan.
Namun pada kenyataannya, jika kita telah berbicara tentang bambu, berdiskusi dengan para peneliti dan telah membaca tulisan dari penelitian mengenai bambu, tentunya kita akan sangat kagum akan kehebatan dan peran dari bambu tersebut. Beberapa fungsi dan manfaat bambu yang dapat kita pelajari yaitu, bambu diketahui mampu melepaskan oksigen 30% lebih banyak ke atmosfer bumi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, satu batang tanaman bambu dapat memproduksi 1,2 Kilogram oksigen disetiap harinya, dimana kebutuhan oksigen manusia setiap harinya hanya sebesar 0,5 Kilogram. Hal ini menunjukkan bahwa dari setiap batang tanaman bambu dapat menyuplai dan mencukupi kebutuhan oksigen bagi dua manusia setiap harinya. Selain itu, dalam peranannya menjaga tanah di tepian sungai dari erosi aliran sungai dan masih banyak fungsi dan manfaat bambu
lainnya. Tidak akan pernah cukup rasanya jika kita ingin menjabarkan secara detail bagaimana fungsi dan manfaat dari bambu tersebut dalam artikel ini, mengingat begitu besar dan hebatnya fungsi dan manfaat dari bambu tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari bambu juga sering dijadikan sebagal filosofi hidup masyarakat Indonesia.
“LALU, MASIHKAH KITA MERAGUKAN FUNGSI DAN MANFAAT BAMBU?” – Mimpi Bumi Karuhun
Berangkat dari potensi besar bambu di wilayahnya, Bumi Karuhun dalam gagasannya, ingin mengembangkan wilayah dan kawasannya melalui pemanfaatan sumberdaya alam yang lebih baik melalui praktik-praktik Sosial Forestri untuk mitigasi perubahan iklim, peningkatan keberlanjutan ekonomi melalui skenario ecotourism dimana bambulah yang akan menjadi basis atau champion dari gagasan tersebut.
-
Pemberdayaan Masyarakat
-
Pelestarian Budaya
-
Peningkatan pengelolaan sumberdaya alam yang lebih baik
Melalui tiga skema yang disusun oleh Bumi Karuhun tersebut. Dalam kehadirannya di tengah-tengah masyarakat, Bumi Karuhun ingin menjadi fasilitator dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Dalam perjalanannya, Bumi Karuhun sempat mengadakan diskusi mengenai potensi bambu dalam skala kecamatan, namun dalam pelaksanaannya, ide dan gagasan untuk melestarikan bambu ini hanya dipandang sebelah mata. Namun tidak terhenti begitu saja, Bumi Karuhun melalui Program “Aku dan Bambu Fest 2021, melakukan suatu diskusi besar yang melibatkan para stakeholders baik di tingkat lokal dan nasional. Program tersebut berkampanye dan mendiskusikan bagaimana. budaya bambu terus dapat dilestarikan sebagai warisan leluhur. Tentunya dalam pelaksanaannya, ide dan gagasan tersebut mendapat respon yang sangat positif dari berbagai pihak. Bumi Karuhun yakin, melalui program dan penyajian yang baik, akan menciptakan dampak yang lebih besar kepada masyarakat sekitar Bumi Karuhun.
Kedai Awitali, buat aku ingin kembali
Yayasan Bumi Karuhun juga sedang mengembangkan sebuah kedai atau cafe yang bernamakan “Kedai Awitali”. Di kedai tersebut menyuguhkan berbagai makanan dan minuman yang tidak kalah unik dengan kedai-kedai lainnya. Terlihat bangunan Kedai Awitali yang berbahan dasar bambu yang di desain spesial oleh arsitek yang merupakan anak dari Dian Achmad Kosasih, generasi penerus Bumi Karuhun.
Terdapat menu andalan yang terdapat di cafe ini, yaitu minuman yang berbahan dasar dari lahang. Lahang atau biasa kita sebut dengan air nira merupakan cairan yang dikeluarkan oleh batang buah aren, dimana batang buah aren muda dan belum menjadi kolang kaling.
Dalam kesehariannya, di pagi hari setelah matahari mulai naik dan malam hari ba’da isya, penyadap lahang yang merupakan kakak beradik ini, memanen lahang dan mengganti jerigen agar bisa tertampung kembali. Hasil dari lahang yang disadap ini, selanjutnya akan digunakan sebagai bahan baku untuk menu andalan di Kedai Awitali. Kedai tersebut menggunakan lahang untuk dijadikan campuran minuman seperti kopi, madu, jeruk dan minuman lainnya. Selain dipasok ke kedai, hasil panen lahang ini akan diproses menjadi gula aren murni, hasil dari gula aren tersebut akan dijual dan beberapa dipasok ke Kedai Awitali. Terdapat hal yang unik dan menarik yang dapat kita lihat dari kakak beradik pemanen lahang ini, yaitu keterkaitan antara para penyadap dan pohon aren itu sendiri. Mulai dari memilih batang buah aren yang akan disadap, perlakuan terhadap batang buah aren sebelum disadap, hingga proses penyadapan yang t
idak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Biasanya pertanda bahwa batang buah aren siap disadap adalah calon buah kolang kaling sudah berubah warna menjadi kemerahan. Dari pertanda tersebut, mulailah para penyadap bambu ini dengan sebatang bambu yang mereka buat sedemikian rupa menjadi sebuah tangga yang mereka gunakan untuk naik ke atas pohon aren. Berbekal ganden yang terbuat dari kayu, mereka menaiki tangga bambu tersebut dan mulai menggoyang-goyang batang buah aren tersebut. Mereka juga mengetuk-ngetuk pangkal dari batang buah aren tersebut, tentunya dengan ketukan dan irama yang khas, peninggalan dari orang tuanya. Proses tersebut biasa mereka sebut dengan ‘tingur dan terus mereka lakukan dalam satu bulan ke depan. Dengan cara tersebut, mereka yakin pohon aren akan dengan mudah mengeluarkan lahangnya, sehingga panen lahang yang dilakukan dapat maksimal.
“KAMI BERHARAP MELALUI KEHADIRAN KAMI, DAPAT BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT LUAS” – Dian Achmad Kosasih Generasi Penerus Bumi Karuhun