The Green Economy Has a Resource-Scarcity Problem
July 15, 2021
Agroforestry-Based Ecosystem Services: Reconciling Values of Humans and Nature in Sustainable Development
July 15, 2021
Show all
WhatsApp Image 2021-06-17 at 14.21.28
WhatsApp Image 2021-06-17 at 14.05.23

Sustainability 17A #10

Tahun 2021, Merayakan Dekade-dekade,


Dwi R. Muhtaman,

sustainability learner

“We humans, alone on Earth, are powerful enough to create worlds, and then to destroy them,” tulis  Sir David Attenborough dalam buku terbarunya, “A Life on Our Planet: My Witness Statement and a Vision for the Future” (2020). Buku ini ditulis ketika dia sudah berusia 94 tahun–usia yang melewati banyak perubahan yang ada di planet bumi ini.  Dan dia menyaksikan perubahan itu sebagai monumen perjalanan hidupnya, diringkas dalam lembar demi lembar buku ini.  Attenborough telah mengunjungi setiap benua di dunia, menjelajahi tempat-tempat liar di planet ini dan mendokumentasikan dunia kehidupan dengan segala keragaman dan keajaibannya. Namun selama masa hidupnya, Attenborough juga telah menyaksikan secara langsung skala monumental dari dampak kemanusiaan terhadap alam.[i]  Bersamaan dengan buku ini, dipersembahkan pula serial film dokumenter yang dikemas sebagai, David Attenborough: A Life on Our Planet — sebuah “witness statement”, through which Attenborough shares first-hand his concern for the current state of the planet due to humanity’s impact on nature and his hopes for the future, tulis Natalia Winkelman di New York Times.[ii]

Buku “A Life on Our Planet” dibuka dengan menceritakan kesannya atas sebuah kota yang bernama Pripyat di Ukraina.  Sebuah kota kecil dengan penduduk puluhan ribu.  Pripyat awalnya dibangun oleh Uni Soviet, dalam satu masa kesibukan konstruksi pada tahun 1970-an. Sebuah tempat yang dirancang dengan sempurna untuk hampir 50.000 orang, rumah bagi kaum utopia modernis, tempat bagi kalangan insinyur dan ilmuwan terbaik di Blok Timur. Lingkungan ideal yang menyenangkan bagi keluarga muda. Rekaman film amatir dari awal 1980-an menunjukkan mereka tersenyum, berbaur dan mendorong kereta dorong bayi di jalan-jalan lebar, mengikuti kelas balet, berenang di kolam renang ukuran Olimpiade, dan berperahu di sungai.

“Namun tidak ada yang tinggal di Pripyat hari ini. Dindingnya runtuh. Jendela-jendelanya rusak. Lintelnya roboh,” tulis David Attenborough, yang dikenal sebagai penulis dan penyaji acara the BBC Natural History dan telah menerbitkan sembilan seri dokumenter natural history.  “Saya harus memperhatikan langkah saya saat menjelajahi gedung-gedungnya yang gelap dan kosong. Kursi-kursi berbaring telentang di salon tata rambut, dikelilingi oleh pengeriting berdebu dan cermin yang pecah.”

Pada 26 April 1986, reaktor nomor 4 di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Vladimir Ilyich Lenin, yang sekarang dikenal semua orang sebagai ‘Chernobyl’, meledak. Ledakan itu akibat dari perencanaan yang buruk dan kesalahan manusia. Desain reaktor Chernobyl memiliki kekurangan. Staf operasi tidak menyadari hal ini dan, disamping itu, lalai dalam pekerjaan mereka. Chernobyl meledak karena kesalahan — penjelasan paling manusiawi dari semuanya.

Bahan radioaktif, empat ratus kali lebih banyak daripada yang dikeluarkan oleh gabungan bom Hiroshima dan Nagasaki, berhembus dengan angin kencang ke sebagian besar Eropa. Jatuh dari langit dalam tetesan hujan dan kepingan salju, memasuki tanah dan saluran air di banyak negara. Akhirnya, masuk dalam rantai makanan. Jumlah kematian dini yang disebabkan oleh peristiwa tersebut masih diperdebatkan tetapi perkiraannya berkisar ratusan ribu. Banyak yang menyebut Chernobyl sebagai bencana lingkungan paling mahal dalam sejarah.

Sayangnya, ini tidak benar, kata Attenborough yang selama karir hidupnya sebagai broadcaster dan natural historian ini. Sesuatu yang lain telah terjadi, di mana-mana, di seluruh dunia, hampir tidak terlihat dari hari ke hari selama sebagian besar abad terakhir. Ini pun terjadi sebagai akibat dari perencanaan yang buruk dan kesalahan manusia. Bukan satu kecelakaan yang malang, tapi kurangnya perhatian dan pemahaman yang merusak semua yang kita lakukan. Bukan dimulai dengan satu ledakan.

Menurut jurnalis yang pernah menyabet Primetime Emmy Awards untuk Outstanding Narrator ini  ledakan itu dimulai secara diam-diam, sebelum ada yang menyadarinya, sebagai akibat dari sebab-sebab yang beraneka ragam, global dan kompleks. Kejatuhannya tidak dapat dideteksi dengan instrumen tunggal. Dibutuhkan ratusan penelitian di seluruh dunia untuk memastikan bahwa hal itu terjadi. Dampaknya akan jauh lebih besar daripada kontaminasi tanah dan saluran air di beberapa negara yang tidak beruntung – hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan destabilisasi dan runtuhnya segala sesuatu yang kita andalkan.

“Ini adalah tragedi sebenarnya di zaman kita: penurunan drastis keanekaragaman hayati planet kita. Agar kehidupan benar-benar berkembang di planet ini, harus ada keanekaragaman hayati yang sangat besar. Hanya ketika milyaran organisme individu yang berbeda memanfaatkan setiap sumber daya dan peluang yang mereka hadapi, dan jutaan spesies menjalani kehidupan yang saling terkait sehingga mereka dapat menopang satu sama lain, maka planet ini dapat berjalan dengan efisien. Semakin besar keanekaragaman hayati, semakin terjamin semua kehidupan di Bumi, termasuk diri kita sendiri. Namun cara kita sebagai manusia sekarang hidup di Bumi membuat kemerosotan luar biasa pada keanekaragaman hayati.”

Tahun 2020 adalah akhir dari Dekade Keanekaragaman Hayati PBB atau United Nations Decade on Biodiversity (UNDB).  Melalui Sidang Umum PBB dihasilkan resolusi untuk menetapkan periode 2011-2020 sebagai United Nations Decade on Biodiversity. UNDB ini untuk mempromosikan implementasi rencana strategis keanekaragaman hayati dan keseluruhan visinya untuk hidup selaras dengan alam. Tujuan utamanya adalah untuk mengarusutamakan keanekaragaman hayati di berbagai tingkat. Sepanjang Dekade itu, pemerintah didorong untuk mengembangkan, melaksanakan dan mengkomunikasikan hasil strategi nasional untuk implementasi Rencana Strategis Keanekaragaman Hayati. UNDB tersebut diluncurkan pada Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati 2011.

Satu dekade (sepuluh tahun) adalah waktu yang amat pendek untuk sebuah perubahan mendasar dan masif.  Tetapi ia juga adalah waktu yang terlalu panjang untuk bisa merasakan dampak buruk jika tanpa ada tindakan kongkrit menyelamatkan keankaragaman hayati.  Berhasilkah UNDB? Tidak terlalu menggembirakan.

Berdasarkan Laporan terbaru Global Biodiversity Outlook 5 (September 2020)[iii] di tingkat global tidak ada satupun dari 20 target yang tercapai sepenuhnya, meskipun sebagian dari enam target telah tercapai (Target 9, 11, 16, 17, 19 dan 20). Analisis atas 60 elemen spesifik dari Target Keanekaragaman Hayati Aichi[iv], tujuh telah tercapai dan 38 menunjukkan kemajuan. Tiga belas elemen tidak menunjukkan kemajuan atau menunjukkan perpindahan dari target, dan ada dua elemen tingkat kemajuan tidak diketahui.

Misalnya Target 1: By 2020, at the latest, people are aware of the values of biodiversity (1) and the 1 steps they can take to conserve and use it sustainably (2). Ini urusan awareness, kesadaran publik.  Hasilnya adalah

Dalam dekade terakhir telah terjadi peningkatan proporsi orang yang pernah mendengar tentang keanekaragaman hayati dan yang memahami konsep tersebut. Pemahaman tentang keanekaragaman hayati tampaknya meningkat lebih cepat di kalangan orang muda. Sebuah survei baru-baru ini menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga orang di negara dengan keanekaragaman hayati paling tinggi memiliki kesadaran yang tinggi baik tentang nilai-nilai keanekaragaman hayati maupun langkah-langkah yang diperlukan untuk konservasi dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Meski begitu lebih banyak yang tidak mempunyai kesadaran dan memahami. Target belum tercapai (keyakinan rendah).

Target 4: By 2020, at the latest, Governments, business and stakeholders at all levels 1 have taken steps to achieve or have implemented plans for sustainable production and consumption (1) and have kept the impacts of use of natural resources well within safe ecological limits (2). Sementara semakin banyak pemerintah dan bisnis mengembangkan rencana untuk produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan, ini tidak dilaksanakan pada skala yang menghilangkan dampak negatif dari aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan pada keanekaragaman hayati. Sementara sumber daya alam digunakan secara lebih efisien, permintaan agregat akan sumber daya terus meningkat, dan oleh karena itu dampak penggunaannya tetap jauh di atas batas ekologis yang aman. Target belum tercapai (keyakinan tinggi).

Target 5: By 2020, the rate of loss of all natural habitats (2), including forests (1), is at least halved and where feasible brought 1 close to zero, and degradation and fragmentation is significantly reduced (3). Laju deforestasi baru-baru ini lebih rendah dibandingkan dekade sebelumnya, tetapi hanya sekitar sepertiganya, dan deforestasi mungkin kembali meningkat di beberapa daerah. Kehilangan, degradasi dan fragmentasi habitat tetap tinggi di hutan dan bioma lainnya, terutama di ekosistem yang paling kaya keanekaragaman hayati di wilayah tropis. Area hutan belantara dan lahan basah global terus menurun. Fragmentasi sungai tetap menjadi ancaman kritis bagi keanekaragaman hayati air tawar. Target belum tercapai (keyakinan tinggi).

Rata-rata, negara melaporkan bahwa lebih dari sepertiga dari semua target nasional berada di jalur yang tepat untuk dipenuhi (34%) atau terlampaui (3%). Untuk separuh lagi dari target nasional (51%), kemajuan sedang dibuat tetapi tidak pada tingkat yang memungkinkan pencapaian target. Hanya 11% target nasional yang tidak menunjukkan kemajuan berarti, dan 1% bergerak ke arah yang salah. Namun target nasional pada umumnya kurang sejalan dengan Target Keanekaragaman Hayati Aichi, dalam hal ruang lingkup dan tingkat ambisi. Kurang dari seperempat (23%) target selaras dengan Target Aichi dan hanya sekitar sepersepuluh dari semua target nasional yang serupa dengan Target Keanekaragaman Hayati Aichi, dan berada di jalur yang tepat untuk dipenuhi. Kemajuan dilaporkan paling besar terhadap target nasional yang terkait dengan Aichi Biodiversity adalah Target 1, 11, 16, 17 dan 19. Oleh karena itu, informasi dari laporan nasional menunjukkan bahwa ada kesenjangan dalam kedua tingkat ambisi dan komitmen negara. untuk mengatasi Target Keanekaragaman Hayati Aichi secara nasional, serta dalam tindakan untuk mencapai komitmen ini.

Informasi dalam laporan nasional secara luas konsisten dengan analisis berbasis indikator di tingkat global. Sementara indikator yang berkaitan dengan kebijakan dan tindakan untuk mendukung keanekaragaman hayati (tanggapan) menunjukkan tren yang sangat positif, indikator yang terkait dengan pendorong hilangnya keanekaragaman hayati, dan keadaan keanekaragaman hayati saat ini sendiri, sebagian besar menunjukkan kecenderungan yang secara signifikan memburuk.

Bahkan kalau kita cari Indonesia pada menu Action by Countries di laman ini: https://www.cbd.int/2011-2020/actions/country hasilnya nihil. Entah karena malas buat laporan atau malu karena hasilnya jeblok.

Namun sebagai penutup akhir tahun 2020 ada kabar gembira dari Oregon State University (OSU), Amerika Serikat.[v] Para peneliti telah mengidentifikasi genus dan spesies bunga baru yang spektakuler dari periode pertengahan Cretaceous. Spesimen jantan bentuknya seperti sinar matahari memancar ke langit.  Spesimen itu dibekukan oleh waktu jadi fosil dalam batuan amber Burma.

“Bunga yang amat indah bagian dari hutan yang ada 100 juta tahun lalu,” kata George Poinar Jr., Profesor emeritus di OSU College of Science. Penemuannya dipublikasikan di Journal of Botanical Research Institute of Texas.  “Bunga jantan kecil, sekitar 2 milimeter, tetapi memiliki sekitar 50 benang sari yang disusun seperti spiral, dengan kepala sari mengarah ke langit,” kata Poinar, pakar internasional dalam menggunakan tumbuhan dan hewan yang diawetkan dalam amber untuk mempelajari lebih lanjut tentang biologi dan ekologi di masa lalu.

Penemuan baru ini memiliki cangkir bunga berongga berbentuk telur — bagian bunga dari mana benang sari berasal; lapisan luar yang terdiri dari enam komponen seperti kelopak yang dikenal sebagai tepal; dan kepala sari dua ruang, dengan kantung serbuk sari yang terbelah melalui katup berengsel lateral.  Poinar dan kolaborator di OSU dan Departemen Pertanian A.S. menamai bunga baru Valviloculus pleristaminis. Valva adalah istilah Latin untuk daun di pintu lipat, lokulus berarti kompartemen, plerus mengacu pada banyak, dan staminis mencerminkan lusinan organ seks jantan bunga.

Bunga itu terbungkus dalam amber di superkontinen kuno Gondwana dan terombang-ambing di lempeng benua sekitar 4.000 mil melintasi lautan dari Australia ke Asia Tenggara, kata Poinar. Ahli geologi telah memperdebatkan kapan sebongkah tanah ini — yang dikenal sebagai Blok Burma Barat — memisahkan diri dari Gondwana. Beberapa percaya itu 200 juta tahun yang lalu; yang lain mengklaim itu lebih seperti 500 juta tahun yang lalu. Banyak bunga angiospermae telah ditemukan di amber Burma, yang sebagian besar telah dijelaskan oleh Poinar dan seorang kolega di Oregon State, Kenton Chambers, yang juga berkolaborasi dalam penelitian ini. Angiospermae adalah tumbuhan vaskular dengan batang, akar dan daun, dengan telur yang dibuahi dan berkembang di dalam bunga.  Karena angiospermae hanya berevolusi dan terdiversifikasi sekitar 100 juta tahun yang lalu, Blok Burma Barat tidak mungkin lepas dari Gondwana sebelum itu, kata Poinar, yang jauh lebih lambat dari tanggal yang telah disarankan oleh ahli geologi.

Tetapi kita tidak ingin kekayaan keanekaragaman hayati yang dinikmati oleh Homo sapiens dalam beberapa ribu tahun ini akan berakhir menjadi fosil hanya karena ketamakan dalam memanfaatkannya. Gagal memanfaatkannya secara berkelanjutan.  Gagal mengatasi dampak dari perilaku manusia dalam merawat kekayaan alam ini.  Kita tidak ingin dikenang dan dikenal sebagai makhluk yang penuh kesombongan dan kegagalan dalam mengelola alam pinjaman ummat manusia generasi yang akan datang.

Kita akui upaya merawat planet bumi cukup gigih.  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagai forum tertinggi untuk mengurus manusia, menetapkan berbagai cara.  Antara lain dengan menetapkan baik tahun tertentu (International Day) untuk memperingati isu tertentu berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam. Atau juga menetapkan dekade (International Decade), sebuah waktu yang lebih panjang. 

Hari-hari Internasional adalah kesempatan untuk mendidik masyarakat umum tentang masalah-masalah yang menjadi perhatian, untuk memobilisasi kemauan politik dan sumber daya untuk mengatasi masalah global, dan untuk merayakan dan memperkuat pencapaian kemanusiaan. Keberadaan hari-hari internasional mendahului pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi PBB telah menjadikannya sebagai alat advokasi yang ampuh.[vi]

Setiap Hari Internasional memberi stakeholder kesempatan untuk mengatur kegiatan yang berkaitan dengan tema hari itu. Organisasi dan kantor sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan yang paling penting, pemerintah, masyarakat sipil, sektor publik dan swasta, sekolah, universitas, dan, lebih umum, warga negara, menjadikan Hari Internasional sebagai batu loncatan untuk tindakan peningkatan kesadaran.

Majelis Umum memutuskan dengan konsensus apakah akan mengadopsi resolusi yang menetapkan Hari Internasional. Tema-tema Hari Internasional selalu dikaitkan dengan bidang aksi utama PBB, yaitu pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional, pemajuan pembangunan berkelanjutan, perlindungan hak asasi manusia, serta jaminan hukum internasional dan aksi kemanusiaan.

Dalam resolusinya, Majelis Umum biasanya menjelaskan apa yang mendorongnya untuk memproklamasikan Hari Internasional. Misalnya, dalam mendeklarasikan tanggal 23 Mei sebagai Hari Internasional untuk Pemberantasan Fistula Obstetri, resolusi tersebut menyebutkan “keterkaitan antara kemiskinan, malnutrisi, layanan kesehatan yang kurang atau tidak memadai atau tidak dapat diakses, melahirkan anak usia dini, pernikahan anak, kekerasan terhadap perempuan muda dan anak perempuan dan diskriminasi gender sebagai akar penyebab fistula kebidanan, dan kemiskinan tetap menjadi faktor risiko sosial utama. “

Banyak orang mungkin belum pernah mendengar tentang penyakit ini, yang menyebabkan beberapa cedera paling parah yang dapat terjadi saat melahirkan, meskipun fakta bahwa sekitar dua juta wanita di negara berkembang hidup dengan penyakit ini, dan antara 50.000 dan 100.000 kasus baru terjadi setiap tahun. Ini adalah contoh yang bagus dari pekerjaan peningkatan kesadaran penting yang dilakukan International Days. Selain itu, badan PBB ini menunjukkan dalam resolusinya aspek masalah mana yang paling menjadi perhatian negara-negara anggota PBB – atau dengan kata lain, kemanusiaan secara keseluruhan, mengingat Majelis terdiri dari 193 negara, yaitu , sebagian besar negara bagian di dunia.

Beberapa Hari Internasional diproklamasikan bukan oleh Majelis Umum, tetapi oleh badan-badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menarik perhatian publik ke topik-topik di bawah bidang keahlian mereka, seperti kesehatan, penerbangan, kekayaan intelektual, dll. Misalnya, Dunia Hari Kebebasan Pers, yang diperingati pada 3 Mei, dicanangkan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang berpusat di Paris, dan kemudian diadopsi oleh Sidang Umum. Selain meningkatkan kesadaran, PBB memanfaatkan Hari-hari ini untuk menasihati negara-negara tentang tindakan-tindakan untuk mengatasi masalah-masalah serius di mana banyak dari tanggal-tanggal ini berputar. Contohnya adalah resolusi pada Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, yang dirayakan pada tanggal 22 Mei, di mana Organisasi mengundang Negara-negara Anggotanya untuk menandatangani dan meratifikasi Protokol Cartagena tentang perlindungan keanekaragaman hayati.

Bagaimana kita mengukur dampak hari-hari ini? Peringatan internasional (yang juga termasuk minggu, tahun dan dekade) merupakan laman yang paling banyak dikunjungi di situs web PBB. Setiap Hari Internasional memiliki situs web khusus, tersedia dalam enam bahasa resmi PBB. Hari Internasional juga berfungsi sebagai indikator minat yang menarik subjek tertentu di setiap bagian dunia. Untuk mengetahuinya, akan dilihat tingkat keterlibatan yang diterima tentang hari peringatan ini di berbagai wilayah dan bahasa di seluruh dunia.

Kasus yang patut disoroti adalah Hari Hak Asasi Manusia Internasional, yang berlangsung pada 10 Desember. Hari ini diperingati di seluruh dunia dengan inisiatif mulai dari perwira militer dan polisi yang menukar senjata dengan sepatu lari di Sudan Selatan, hingga kompetisi pelajar di Rusia, atau pameran di Brasil. Secara keseluruhan, banyak individu dari semua lapisan masyarakat terlibat, dalam satu atau lain cara, dalam perayaan hari istimewa ini. Hari paling populer lainnya termasuk Hari Perempuan Internasional (8 Maret), Hari Air Sedunia (22 Maret) dan Hari Perdamaian Internasional (21 September).

Anda mungkin belum tahu bahwa 21 Maret adalah tanggal dimana terdapat lima Hari Internasional yang berbeda, dan Juni adalah bulan dengan Hari Internasional terbanyak.

Tahun 2021 juga adalah tahun yang istimewa karena merupakan tahun yang akan sibuk dengan berbagai Tahun Dekade Internasional (International Decade).[vii]  Tahun Dekade Internasional 21-2030 berturut-turut merupakan Dekade untuk United Nations Decade of Healthy Ageing, United Nations Decade on Ecosystem Restoration, United Nations Decade of Ocean Science for Sustainable Development.  Disamping itu tahun 2021 ini juga bagian lintasan dari Tahun Dekade Internasional yang berbeda.  Misalnya Nelson Mandela Decade of Peace, United Nations Decade of Family Farming (2019–2028); International Decade for Action “Water for Sustainable Development” (2018–2028); Third United Nations Decade for the Eradication of Poverty (2018-2027); United Nations Decade of Action on Nutrition, Third Industrial Development Decade for Africa (2016–2025); International Decade for People of African Descent   (2015–2024); United Nations Decade of Sustainable Energy for All (2014–2024).

Dan juga satu hal yang amat penting diingat adalah Tahun 2021-2030 adalah dekade dimana kita mempunyai sisa waktu sepuluh tahun untuk mencapai 17 Sustainable Development Goals (SDGs).  Dekade ini juga disebut sebagai Decade of Action to Implement the SDGs.[viii] Bisakah itu dicapai pada tahun 2030?

Mari kita kembali simak penuturan David Attenborough yang saya kutip sebagian besar dalam paragraf berikut ini dengan berbagai adaptasi narasi.

Laporan UNDB yang tertuang dalam Global Biodiversity Outlook 5 telah dengan jelas menunjukkan risiko yang dihadapi manusia di planet bumi. Dalam beberapa dekade terakhir ini berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan penyadaran kolektif dan menggalang tindakan kolektif. Bagaimana kita bisa mendorong kembalinya alam liar dan mengembalikan stabilitas ke Bumi? Mereka yang merenungkan jalan menuju masa depan alternatif, lebih liar, lebih stabil, sepakat dalam satu hal: perjalanan kita harus dipandu oleh filosofi baru — atau, lebih tepatnya, kembali ke filosofi lama–yang bagaimana pun banyak mengandung wisdom yang bisa jadi teladan.

Pada awal Holosen, sebelum pertanian ditemukan, beberapa juta manusia di seluruh dunia hidup sebagai pemburu-pengumpul, suatu keberadaan yang berkelanjutan, yang bekerja dalam keseimbangan dengan alam. Itu adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki nenek moyang kita saat itu.

Dengan munculnya pertanian, pilihan kita meningkat, dan hubungan kita dengan alam berubah. Kita mulai menganggap dunia liar sebagai sesuatu yang harus dijinakkan, ditaklukkan, dan digunakan. Tidak diragukan lagi bahwa pendekatan baru terhadap kehidupan ini memberi keuntungan yang spektakuler, tetapi selama bertahun-tahun, kita kehilangan keseimbangan. Kita berpindah dari “bagian dari alam menjadi terpisah dari alam.”

Bertahun-tahun kemudian, kita perlu membalikkan transisi itu. Keberadaan yang berkelanjutan sekali lagi menjadi satu-satunya pilihan kita.

Tapi sekarang ada miliaran penduduk. Bukan hanya jutaan. Kita tidak mungkin kembali pada cara pemburu-pengumpul. Tidak ada yang mau juga. Kita perlu menemukan gaya hidup jenis baru yang berkelanjutan, yang membawa dunia manusia kontemporer kembali seimbang dengan alam sekali lagi. Hanya dengan begitu hilangnya keanekaragaman hayati yang kita sebabkan mulai beralih ke perolehan keanekaragaman hayati. Hanya dengan begitu dunia dapat dibangun kembali, dan stabilitas ekosistem kembali tercapai.

Kita sudah memiliki kompas untuk perjalanan ini menuju masa depan yang berkelanjutan. Model batas planet (The Planetary Boundaries Model) dirancang untuk menjaga kita tetap di jalur yang benar. Ini memberitahu kita bahwa kita harus segera menghentikan dan sebaiknya mulai membalikkan perubahan iklim dengan memperhatikan emisi gas rumah kaca di mana pun itu terjadi. Kita harus mengakhiri penggunaan pupuk yang berlebihan. Kita harus menghentikan dan membalikkan konversi ruang liar menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan pembangunan lainnya. Ini juga memperingatkan kita tentang hal-hal lain yang perlu kita awasi – lapisan ozon, penggunaan air tawar, polusi kimia dan udara, pengasaman laut. Jika kita melakukan semua hal itu, hilangnya keanekaragaman hayati akan mulai melambat hingga berhenti, dan kemudian mulai berbalik arah. Atau dengan kata lain, jika ukuran utama yang kita gunakan untuk menilai tindakan kita adalah kebangkitan alam, kita akan mendapati diri kita membuat keputusan yang tepat, dan kita akan melakukannya bukan hanya demi alam, tetapi, karena alam menjaga Bumi tetap stabil, untuk diri kita sendiri.

Tapi kompas kita kehilangan elemen penting. Sebuah laporan baru-baru ini memperkirakan bahwa hampir 50 persen dari dampak umat manusia pada dunia kehidupan disebabkan oleh 16 persen golongan terkaya dari populasi manusia. Gaya hidup yang telah terbiasa digunakan oleh orang terkaya di Bumi sama sekali tidak berkelanjutan. Saat kita merencanakan jalan menuju masa depan yang berkelanjutan, kita harus mengatasi masalah ini. Kita harus belajar tidak hanya untuk hidup dalam sumber daya Bumi yang terbatas, tetapi juga bagaimana membagikannya secara lebih merata.

Agenda terakhir yang harus dilakukan kini adalah ACTION, tindakan.  Enough is enough.  Kini waktunya melakukan apa yang harus dilakukan untuk memastikan planet bumi ini berkelanjutan bagi generasi-generasi yang akan datang. Sebuah film dokumenter baru-baru ini ditayangkan untuk menegaskan pentingnya melakukan tindakan.  Film yang berjudul “The Decade of Action” ini dibuat oleh para enterpreneur, videografer dan konsultan komunikasi:[ix] Wim Vermeulen, Director of Strategy and Sustainbility di Bubka, juga pengarang buku ‘Marketing for the Mad (Wo)Men of Tomorrow’ and ‘De duurzame Belg’. Lalu ada Bart Lombaerts, Founder Spyke, pengarang buku Meaningful Marketing. Mathias Brouns Direktur untuk produksi serial TV dan komersial. Kristof Lasure, Operator kamera dan video editor. Karen Opdecam, Senior  Communication Consultant.

Mereka mewawancarai sejumlah tokoh dari pebisnis, akademisi, peneliti, investor.  Antara lain ada Paul Polman, mantan CEO Unilever, Co-Founder IMAGINE.  Ada Gillian Tett, Editor Umum Financial Times.  Ada Pia Heidenmark Cook, Chief Sustainability Officer IKEA.  Ada Prof Ioannis Ioannaou dari London Business School. Prof. Dr. Johan Rockstrom, Director of Postdam Institute for Climate Impact Research.  Mereka semua berbicara soal pentingnya bertindak, khususnya kalangan bisnis. Betulkah mereka, kalangan yang disebut David Attenborough sebagai bagian dari 16% terkaya yang boros itu, akan sungguh-sungguh bertindak?  Waktu yang akan membuktikannya.  Dan kita atau generasi mendatang akan menyaksikan bagaimana kekayaan alam yang kita pinjam digunakan.

“The Decade of Action” is a remarkable documentary on sustainability and why businesses need to go all-in if we want to achieve the climate goals, the SDG’s and keep our world safe for our children, grandchildren, and great-grandchildren, tulis para inisiator film ini–sebuah ajakan dan janji yang semoga bisa ditepati, dari sekian banyak janji serupa sebelumnya.

Dan mari kita melakukan hidup yang berkelanjutan mulai hari ini.  Setidaknya mulai awal tahun 2021.


[i] https://www.google.com/search?client=safari&rls=en&q=a+life+on+our+planet+david+attenborough&ie=UTF-8&oe=UTF-8

[ii] https://en.wikipedia.org/wiki/David_Attenborough:_A_Life_on_Our_Planet#cite_note-nyt-3

[iii] https://www.cbd.int/gbo/gbo5/publication/gbo-5-spm-en.pdf

[iv] Seperangkat 20 target global di bawah Rencana Strategis untuk Keanekaragaman Hayati 2011-2020. Mereka dikelompokkan dalam lima tujuan strategis:

A. Mengatasi penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati dengan mengarusutamakan keanekaragaman hayati di seluruh pemerintah dan masyarakat.

B. Mengurangi tekanan langsung pada keanekaragaman hayati dan mempromosikan penggunaan yang berkelanjutan.

C. Memperbaiki status keanekaragaman hayati dengan menjaga ekosistem, spesies dan keanekaragaman genetik.

D. Meningkatkan manfaat dari keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem bagi semua.

E. Meningkatkan implementasi melalui perencanaan partisipatif, manajemen pengetahuan dan pembangunan kapasitas.

https://biodiversitya-z.org/content/aichi-biodiversity-targets.  Setelah Dekade Keanekaragaman hayati ini berakhir pada 2020, PBB bersiap-siap untuk melanjutkan langkah-langkah yang disebut post-2020 global biodiversity framework.  Framework ini disetujui dan diputuskan pada pertemuan Oktober 2020, the Convention on Biological Diversity (CBD) Conference of the Parties (COP 15) di Kunming, China – the UN Biodiversity Summit. Visi 2050 Vision dinyatakan bahwa, by 2050, “biodiversity is valued, conserved, restored and wisely used, maintaining ecosystem services, sustaining a healthy planet and delivering benefits essential for all people.”

[v] https://phys.org/news/2020-12-million-years-fresh-holiday-beauty.html

[vi] https://www.un.org/en/sections/observances/why-do-we-mark-international-days/

[vii] https://www.un.org/en/sections/observances/international-decades/index.html

[viii] https://www.youtube.com/watch?v=jJGho7k3crk

[ix] https://www.thedecadeofaction.com/team

Dokumen Lengkap sebagai berikut