Mencari Manisnya Coklat yang Pahit
June 30, 2021
Sustainability, Regulation and Convention
July 5, 2021
Show all

E M M Y

Saya pertama kali mengenalnya sejak puluhan tahun yg silam ketika sama-sama di tingkat persiapan bersama IPB. Kami sama-sama memilih unit kegiatan Cinta Alam. Kesan pertama dengan Emmy, dia sudah menunjukkan kemauan yang kuat untuk mencapai sesuatu.

Dalam sebuah ujian cross country dari Gunung Bunder ke Kampus IPB Baranangsiang, dia sempat kehilangan kacamatanya.
Meskipun dia sempat menangis karena tidak bisa melihat dengan jelas, dia ngotot tetap ingin melanjutkan perjalanan. Dengan perlengkapan seadanya ketika itu, dia minta dituntun agar bisa sampai ke kampus.

Dalam kegelapan sore dan malam akhirnya kami satu tim sampai di Kampus IPB Baranangsiang.

Kenekadan Emmy waktu itu membuat kami semua tegar tidak menyerah. Emmy yg penglihatannya tidak jelas saja, dan sering terantuk batu bahkan kecebur lumpur di sawah tetap tidak pantang menyerah.
(Banyak tim lain yang akhirnya sampai melewati batas waktu yg ditentukan. Jangan dibayangkan perjalanan dari Gunung Bunder ke Kampus IPB seperti sekarang).

Setelah itu kami sama sama aktif di Lawalata (Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam IPB). Saya L 093, Emmy ya sekitar L 090an.
Emmy cukup cemerlang dan menonjol di kegiatan Lawalata IPB. Ketika itu, Lawalata selain merupakan wadah kegiatan pecinta alam mahasiswa IPB, juga menjadi tempat berdiskusinya berbagai kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Hampir semua aktifis kampus pada waktu itu adalah anggota Lawalata.

Seperti juga banyak jebolan Lawalata IPB, Emmy melanjutkan karirnya di organisasi yang berkaitan dengan lingkungan. Keterlibatannya tidak sekedar main-main, tapi passion di dunia kecintaalaman dan care terhadap persoalan lingkungan semakin menjadi-jadi.


Lama tidak pernah bersua, ketemu lagi menjelang reformasi 98. Dalam sebuah seminar di Gedung BPPT, dia memoderatori sebuah acara. Dia sudah menjadi orang besar dan terkenal.
Dalam waktu istirahat, kami ngobrol. Dia membuat daftar beberapa isu tentang kehutanan.
“Cok … loe beresin nih dunia loe”, sambil menyodorkan kertas itu.
Dia tidak tahu bahwa saya bukan siapa siapa dan bukan apa-apa. Tapi itulah Emmy. Dia tidak pernah menganggap remeh lawan bicaranya. Saya dianggap orang yang mampu menyelesaikan persoalan “besar” itu.

Emmy dan Dhana, dua teman sejak TPB yang kemudian sering bersama dalam aktifitas kegiatan kealumnian satu angkatan.
Kehadiran mereka berdua selalu menambah keceriaan dan kemudaan kami semua. Mereka berdua pasangan suami istri yang sangat piawai dalam berbagai tarian.
Tidak terbayang, seorang aktifis yang serius dan sering dipandang pendapatnya straight forward, mempunyai kelincahan yang seperti itu.
Emmy bersama lagi di Dewan Pembina alumni IPB petiode 2013 – 2017. Emmy tetap Emmy dimanapun. Bicaranya tetap apa adanya. Jujur dan tanpa tedeng aling aling.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa orang dari kita tahu bahwa dia sedang menderita sakit. Tapi kesakitannya tidak menyurutkan dalam berbagai aktifitasnya. Dia tidak ingin teman temannya tahu dia sedang sakit.
“Sakit itu persoalan personal. Janganlah dibawa bawa ke ruang publik”, katanya dalam sebuah kesempatan.
Emmy tetap berjuang dalam kesakitannya didampingi suami dan anak anaknya yang hebat.
Sampai detik detik terakhir mengikuti perjuangan Emmy, dia tidak mau menyerah. Fighting spirit nya luar biasa. Sampai akhirnya Allah yang Maha Pengasih yang mengakhiri kesakitan Emmy.
Innillahi wa inna illaihi rojiun.
Selamat jalan pejuang.

Bogor, 3 Juli 2021, 23.00
Ucok NA

Kesaksian untuk Emmy Hafild

Oleh: Andiko St Mancayo

Mungkin 20 tahun lalu, siang itu, kantor tempat saya jadi voluntir sedang lengang. Tiba-tiba seorang tokoh nasional turun dari mobilnya, masuk dan mencari saya. Semua orang tercengang, darimana saya kenal aktivis lingkungan papan atas itu. Jujur saat itu saya hanya tahu dialah Emmy Hafild dari koran dan media dan ia saat ini berdiri dihadapan saya dan sontak saya grogi plus senang. Rupanya ia datang hanya untuk mengucapkan terima kasih, karena saya telah membantu stafnya melakukan penelitian di provinsi saya. Jujur saya merasa tersanjung siang yang panas itu. Setelahnya tidak pernah ada komunikasi diantara kami, karena nggak mungkinlah saya yg masih kroco-kroco aktivis ini, bisa kontak dengan Perempuan aktivis lingkungan nomor 1 di Indonesia.saat itu. Namun suatu hari tiba-tiba saya berserobok dgn beliau yang sedang melintas di sebuah Cafe di Ibu Kota bersama Suaminya. Ketika saya menyapanya, dia langsung bertanya, “Kamu Ngapain disini Andiko ?”. Sekali lagi sungguh saya merasa tersanjung, dia masih mengingat nama saya dan siapa saya setelah pertemuan singkat dikantor tempat saya jadi voluntir dulu. Itulah Mba Emi yang saya kenal, seorang yg sanggup membuat tindakan receh, menjadi bernilai bagi anak-anak muda untuk mengikuti jekaknya sebagai Pejuang Lingkungan, Selamat Jalan Mba, Insya’Allah syurga menantimu.

Setelah saya baca, rasanya saya belum lengkap menggambarkan sosok almarhum Emmy. Ini penting terutama untuk adik2 generasi penerus L IPB. Perkenankan saya memperbaiki uraian di atas.

Kesaksian singkat tentang almarhumah Emmy

Soerjo Adiwibowo

Fenomena Emmy ini menarik. Semasa hidupnya Emmy dikenal amat vokal menyuarakan keadilan lingkungan. Saat di TPB IPB (Agronomi, A-15) dia milih masuk Perkumpulan Mahasiswa Pencinta Alam (disingkat Lawalata, atau L) IPB. Saat masa pelatihan untuk jadi anggota L IPB, Emmy nyaris tenggelam terbawa arus sungai di wilayah baranangsiang. Saya baru tahu sore hari dan dipanggil oleh teman2 untuk meredakan kemarahan Emmy kepada para Senior. Saat mengikuti masa pembinaan untuk menjadi anggota L IPB, Emmy bersama tiga sahabat dekatnya Hanni Adiati dan Ratih Purbasari sudah banyak menyedot perhatian. Setiap selesai kuliah Emmy bersama Hanni dan Ratih memungut bungkus permen dan aneka sampah di ruang kelas. Sehingga sering diledék oleh teman2nya sebagai petugas Dinas Kebersihan.. Ada banyak bentang kegiatan Emmy saat menjadi anggota L IPB.

Emmy masuk IPB saat kampus tengah bergolak melawan rejim Orde Baru. Para aktivis IPB, UI, ITB, UNPAD dan beberpa perguruan tinggi ditangkap. Kampus IPB ‘lock down’ alias mogok belajar. Di saat itu pula Emmy berkenalan dekat dengan Dana yang juga aktivis kampus IPB. Dana adalah putra Jenderal HR Dharsono yang vokal terhadap Soeharto. Suasana inilah yang turut membentuk Emmy sebagai orang yang berani, bersuara lantang, dan tidak sungkan2 berdebat dengan siapa saja, terutama kalau bersinggungaan dengan soal2 keadilan lingkungan. Dengan penuh kesdaran Emmy memilih jalan hidupnya sebagai aktivis lingkungan. Jalan pilihan ini menghantarkan Emmy menjadi Direktur Eksekutif WALHI pada pertengahan 1990an. Tak lama setelah itu halaman depan (cover page) majalah Times dimuat wajah Emmy bersama beberapa aktivis lingkungan dunia sebagai Hero of the Planet. Menjelang akhir Orde Baru Emmy/WALHI bersama-sama Fordem, LBH, dan beberapa eksponen giat mendorong proses demokrasi dan reformasi di Indonesia.

Emmy sering menyampaikan kritik tanpa tedeng aling-aling. Terakhir saya lihat tahun 2015 almarhumah berdebat keras dengan bu Erna Witoelar di depan Paviliun Indonesia saat Konperensi Perubahan Iklim di Paris. Padahal Erna Witoelar adalah mentornya Emmy. Boleh dibilang hampir semua kawan2nya pernah”bergesekan” dengan Emmy. Tapi malam ini semua yang pernah debat dan bergesekan dengan Emmy hadir, termasuk bu Erna Witoelar, dan berdoa untuk kesembuhan Emmy. Pemandangan yang luar biasa. Mereka yang hadir dalam zoom ada yang muslim, katolik, protestan dan hindu; ada aktivis lingkungan, HAM, demokrasi, dan isu perempuan/gender. Bahkan yang berinisiatif untuk mengundang doa untuk Emmy adalah Sandra Moniaga (Komnas HAM). Sandra notabene adalah seorang non-muslim. Tepat ketika sedang dibacakan Al Fatihah untuk menutup acara, masuk berita bahwa Emmy wafat. Di tengah-tengah isak tangis para peserta zoom, Chalid Muhammad mantan Direktur Eksekutif Walhi, dengan tersendat-sendat memberi kesaksian bahwa Emmy adalah orang yang baik. Di penghujung kehidupannya Emmy memberikan pelajaran penting kepada kita: bhw perjuangan keadilan lingkungan harus merupakan aksi kolektif melintasi batas2 identitas suku, agama, ras, dan golongan! Selamat jalan Emmy.. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat yang terpuji..🙏🙏🙏

TAKZIAH BULAN JULI
Ode untuk Emmy Hafild

Menapaki gugusan sunyi
Perempuan perkasa itu akhirnya pergi
Di rumah akhirat ia kembali
Munajat lestari merawat bumi

Bulan Juli kali ini
banyak jiwa bergegas
Menambatkan nafas
Menepi ke hadirat Ilahi
Menapak sepi di riuh pandemi

Kutulis di hati kudus
Saat gugusan lahan nan tandus
Kini menghijau tanda tak haus
Jejakmu birumu pantang kuhapus

Ada yang menyebutmu pejuang lingkungan
Aku menulis namamu
Srikandi Kehidupan

Perempuan berkalung embun
Engkaulah itu!
Bermahkota rimbun
Engkaulah itu!
Berhati langit biru

Jejak kakimu hijau
Tegar jiwamu tak pernah risau
Itulah engkau!

Engkaulah serenada
Puisi senja di ufuk kalbu
Kutulis namamu semerbak bunga
Kuziarahi nafasmu dengan doa
dan cinta

Gus Nas Jogja, 3 Juli 2021
Pesantren Imogiri