Kegiatan #LectureSession Ecotourism in Indonesia and Japan di Kantor LATIN. Rabu (07/09). Foto: Taufik Saifulloh
Sebagai lembaga yang telah mempromosikan kehutanan masyarakat/ Sosial Forestri selama 4 dekade terakhir, LATIN melihat banyak tantangan dan peluang ecotourism dari berbagai wilayah-wilayah Sosial Forestri di Indonesia. LATIN bersama Sekolah pscasarjana (IPB) University mengadakan “Lecture Session Ecotourism in Japan and Indonesia” pada Rabu (06/09). Kegiatan dilakukan secara hybrid di Pendopo LATIN dan daring menggunakan platform Zoom Meeting.
Lecture session bertujuan menjadi wadah pembelajaran bagi para pegiat-pegiat Ekowisata yang ada di berbagai wilayah. Khususnya untuk mendapatkan pengatahuan kolektif dari praktik Ekowisata di Jepang sekaligus membaca arah perkembangannya di Indonesia. Kegiatan ini dihadiri oleh 23 orang peserta secara luring dan 10 orang peserta secara daring.
Hadir sebagai pemateri adalah Dr. Bixia Chen, seorang Associate Professor dari University of the Ryukyus yang memberikan materi kuliah mengenai perkembangan ekowisata yang ada di Jepang dan bagaimana ekowisata dapat menjawab tantangan dari upaya pelestarian lansekap perdesaan. Materi ini kemudian dilengkapi dengan paparan dari Thomas Oni Veriasa selaku Direktur LATIN dan peneliti yang mendedah studi kasus di Kalimantan Barat mengenai kontribusi ekowisata terhadap struktur nafkah rumah tangga. Kegiatan diselenggarakan dalam dua bahasa dan dimoderasi oleh Sastiviani Cantika yang merupakan peneliti yang saat ini juga menjabat sebagai Deputi Direktur LATIN.
Bixia Sensei telah melakukan penelitian tentang ekowisata selama 20 tahun mengenai pelestarian sosial dan lingkungan. Ia juga telah menulis dua buku tentang ekowisata hasil dari penelitian yang sudah dilakukan selama ini. Tiga studi utamanya tentang ekowisata pertama adalah sawah yang saat ini banyak dikembangkan sebagai eduwisata. Kedua, adalah perkembangan green tourism di Jepang selama 10 tahun terakhir. Ketiga adalah ekowisata berbasis masyarakat hutan di Okinawa Jepang.
“Lahan pertanian di Jepang memiliki pemandangan yang indah, namun saat ini banyak ditinggalkan. TIdak ada ada anak muda hanya ada petani yang usianya 80 tahun. Mungkin ini yang akan terjadi di Indonesia, ketika tidak ada anak muda yang menjadi petani,” ungkap Bixia Sensei saat membuka sesi presentasinya.
Ia mengungkapkan opsi jepang saat ini adalah pengembangan ekowisata berbasis lansekap sawah, hutan, dan desa yang disebut “Satoyama”. Sato artinya desa, dan Yama adalah gunung atau hutan yang dekat dengan manusia. Area ini dibagi dalam tiga bagian utama yaitu peternakan di bagian atas, lalu di bawahnya area hutan, dan paling bawah adalah sawah. Konsep satoyama adalah kearifan lokal yang sudah ada semanjak 700 tahun yang lalu di Jepang.
Di Jepang ekowisata bukan hanya tentang uang namun untuk regenerasi di kawasan perdesaan. Tujuannya agar pemuda bisa melanjutkan kebudayaan dan memabangun komunitas. Saat ini, green tourism berkemabang cepat di Jepang. Selain anak muda perkembangan ini juga memperkuat posisi perempuan di perdesaan.
Sementara itu Thomas menegaskan Ekowisata bukan hanya tentang jual beli produk namun ada proses edukasi, pengalaman, dan emosi. Ia memaparkan hasil penelitianya yang membuktikan bahwa ekoturisme berbasis masyarakat belum dapat menghapus kemiskinan yang ada di masyarakat.
“Kami melakukan penelitian di Desa Rantau malam, di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat. Memang ada peningkatan pengetahuan, praktik dan peningkatan pendapatan. Namun, wisata ini hanya berkontribusi 1.7% per tahun dalam struktur nafkah masyarakat”, ungkap Thomas.
Menurutnya perlu adanya pengembangan model bisnis untuk pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Selain itu juga penting untuk memperkuat peran antar semua stakeholder untuk mendukung keberlangsungan dan keberlanjutan wisata lokal.
Diskusi dalam kuliah umum ini diakhiri dengan pertanyaan terakhir yang dilemparkan oleh moderator, “Ekowisata selalu dapat dilihat sebagai dua sisi mata pisau, yaitu kemajuan ekonomi dan kerusakan ekologi. Bagaimana pengembangan strategi ekowisata yang berkelanjutan dapat dilakukan di dua negara?”. Pertanyaan ini kemudian mengarah pada kesimpulan akhir kuliah dan diskusi yang di paparkan moderator bahwa dibutuhkan edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat dan wisatawan mengenai konteks yang dibangun oleh ekowisata; diperlukan kemitraan berbagai pihak termasuk keterlibatan jejaring global; pendekatan partisipatif dan community development menjadi kata kunci penting untuk dapat mengembangkan ekowisata yang berkelanjutan; dan pentingnya pemimpin lokal yang memiliki kreativitas dan visi pengembangan ekowisata.
“Merangkum keseluruhan materi kuliah dan diskusi hari ini, kita semua perlu mengingat kembali bahwa Ekowisata harus dipandang as a a force of conservation” ungkap Sastiviani Cantika sekaligus menutup sesi lecture session hari itu.
Keyword: Ekowisata, Sosial Forestri
Penulis: Novan
Editor: Sastiviani Cantika
Rekaman zoom, dokumentasi, dan notula bisa diakses pada link berikut: https://drive.google.com/drive/folders/1-YHEUjVa0dugU2nKGdo7jzF_8GTMhdYQ?usp=drive_link