Inovasi Leuit Makmur sebagai Rekomendasi Pengelolaan Padi Ulung di Desa Cipeuteuy

0
1 year ago

 

Dok: Taufik Saifulloh/LATIN

Kegiatan observasi peserta SESORE di sekitar sawah Kampung Sukagalih

Rangkaian materi dan praktik Sekolah Sosial Forestri (SESORE) Batch 4 telah selesai dilaksanakan. Observasi dilakukan oleh para peserta di Kampung Cisarua dan Kampung Sukagalih. Peserta dibagi menjadi dua tim dalam melakukan praktik dan observasi di masing-masing dusun untuk menghasilkan inovasi yang menjadi syarat kelulusan program sekolah sosial forestri yang digagas LATIN. Sebanyak sembilan inovasi individu dan dua inovasi kelompok telah lahir dari hasil pembelajaran para peserta selama 10 hari. Inovasi kelompok telah dipaparkan kepada para panelis dari unsur pentahelix yang dihadirkan untuk memberikan masukan dan perbaikan dalam inovasi yang digagas peserta. Di Penghujung presentasi inovasi individu para juri yang terdiri dari Kepala Desa, Deputi Direktur LATIN, dan Ketua Badan Pembina Yayasan LAIN memberikan penilaian kepada masing-masing peserta sekaligus menilai tiga inovasi terbaik. Inovasi terbaik pertama diraih oleh Uba Suhendra dengan inovasi yang berjudul Leuit Makmur yang juga secara langsung memberikan inspirasi kepada Kepala Desa untuk mengimplementasikan inovasinya di Desa Cipeuteuy. Juara kedua diberikan kepada Kava Zulfikri, salah satu peserta asal Jember, Jawa Timur dengan inovasi Rowo Gambus Ungkalan yang mengangkat potensi kawasan hutan bakau di Kabupaten Jember. Inovasi terbaik ketiga adalah Kaimbo Tanjung Belit yang menjadi gagasan Bella Riskyta mengenai pengembangan wisata edukasi alam di Desa Tanjung Belit, Kabupaten Bengkalis. Inovasi-inovasi yang lahir dari SESORE batch 4 goes to field ini akan dijadikan rekomendasi kepada berbagai pihak untuk selanjutnya dapat diadopsi dan dikembangkan di masing-masing lokasi.

LATIN.OR.ID – Masyarakat Desa Cipeuteuy sangat bergantung pada lahan sebagai sumber pangan dan mata pencaharian. Selain menanam sayur dan buah-buahan, mereka juga menanam padi di sekitar aliran sungai Citamiang. Hortikultura menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat Desa Cipeuteuy yang penjualannya masih bergantung pada keberadaan dan peran tengkulak. Tidak banyak masyarakat yang menjual hasil panen padinya karena harga jualnya yang rendah dan sistem pengolahan padi yang kurang memadai. Keuntungan yang diperoleh dari hasil menjual padi tidak terlalu menjanjikan, sehingga masyarakat lebih memilih menanam padinya untuk konsumsi sehari-hari. 

Petani Desa Cipeuteuy telah menanam dan melestarikan kembali padi varietas lokal selama kurang lebih tujuh tahun. Padi Ulung/Citamiang dan Sadapur merupakan dua varietas padi lokal yang dibudidayakan oleh masyarakat Desa Cipeuteuy. Padi Ulung menjadi salah satu hasil pertanian yang menjadi produk unggulan Desa Cipeuteuy dengan karakteristik beras yang pulen, wangi, dan cita rasa yang enak. Kualitas dan rasanya tidak kalah dengan padi-padi yang dijual di pasaran dengan brand ternama seperti padi Rojolele dan Pandan Wangi. Padi Ulung dipilih masyarakat karena kemudahan perawatan tanaman, ketahanannya terhadap penyakit, dan produktivitas yang cukup baik. Daya simpannya bisa tahan hingga dua musim. Kualitas Padi Ulung yang tergolong baik diantara padi-padi di pasaran ini  dijual dengan harga yang cukup terjangkau.

Keunggulan Padi Ulung ini bukan tanpa permasalahan dalam pengembangan budidaya dan pemasarannya. Beberapa persoalan berhasil ditangkap dan dianalisis oleh Uba,  seorang pemuda asli Dusun Leuwi Waluh, Desa Cipeuteuy. Permasalahan-permasalahan tersebut diantaranya, pengelolaan pasca panen termasuk lokasi penjemuran padi yang terbatas, rendahnya harga jual, terutama saat panen raya, dan kesulitan dalam pemasaran. Uba berusaha menjawab permasalahan-permasalahan itu dengan mengikuti kelas SESORE batch 4 goes to field. Gagasan Leuit Makmur, yaitu sebuah tempat penyimpanan padi khas Sunda dilahirkan Uba sebagai solusi untuk menyiapkan dengan baik sistem pengelolaan pasca panen Padi Ulung. Fungsi utama dari Leuit Makmur ini sebagai penyimpanan padi dengan jumlah banyak dan dalam waktu yang lama. Leuit ini juga mampu menjaga padi agar tidak terkena kutu dan menjaga kestabilan suhu (kelembaban) padi di dalamnya. Leuit Makmur memiliki fungsi untuk membantu petani mengelola hasil panen padi agar dapat diolah dengan baik dengan harga jual yang bagus. Harapannya, dengan dukungan dari pemerintah desa Cipeuteuy dan pihak-pihak lainnya, inovasi tersebut dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di Desa Cipeuteuy.

Apresiasi dan ucapan terima kasih tak terhingga tertuju kepada para peserta SESORE batch 4 goes to field yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan dan menutup program dengan gagasan serta inovasi yang aplikatif. Terimakasih juga tercurah pada para kolaborator Absolute Indonesia, Pemerintah Desa Cipeuteuy, dan Masyarakat Desa Cipeuteuy yang telah mendukung dan membantu kelancaran kegiatan ini. 

Penulis : Naily FitrotunEditor : Sastiviani Cantika

Leave a Reply