Menggerogoti Masa Depan
June 16, 2021
Partnership and Sustainability
June 16, 2021
Show all

Contributor


Sustainability 17A #3


Dwi R. Muhtaman,

sustainability learner

Dalam khasanah dunia peternakan rakyat dikenal ada istilah sontoloyo.  Ini adalah sebutan bagi pekerjaan seseorang sebagai penggembala itik atau bebek.  Atau disebut juga tukang angon bebek. Seorang sontoloyo biasanya menggembala beratus ekor bebek dengan cara berpindah mengikuti musim panen padi di daerah pesawahan. Dengan berbekal bambu kecil yang melengkung memanjang dia bisa mengarahkan barisan bebek agar tertib menuju tujuan sumber pakan.  Sayangnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sontoloyo malah diartikan dengan konotasi negatif sebagai konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sebagai kata makian)–yang memang umum digunakan dalam ekspresi keseharian orang Jawa.

Dalam khasanah dunia yang lain ada yang disebut Angsa Hitam, the Black Swan.  Menurut Nassim Nicholas Taleb penulis The Black Swan: the impact of the highly improbable (2007), the Black Swan adalah peristiwa yang sangat mustahil, yang dicirikan dengan tiga karakteristik utama: Tidak dapat diprediksi; membawa dampak yang sangat besar; dan, setelah kejadian, nampak sebetulnya kejadian itu sama sekali tidak acak, seharusnya bisa diprediksi sebelumnya. Keberhasilan Google yang menakjubkan adalah contoh Angsa Hitam; begitu juga peristiwa 9/11, kebakaran hutan di Sumatera atau kelaparan di Papua.

Bagi Taleb, Angsa Hitam mendasari hampir semua hal tentang dunia kita. Dari munculnya agama hingga kejadian dalam kehidupan pribadi kita sendiri. Mengapa kita tidak mengakui fenomena Angsa Hitam tersebut sampai setelah kejadian? Bagian dari jawabannya, menurut Taleb, adalah manusia itu terprogram untuk selalu perhatian pada hal-hal yang  spesifik ketika seharusnya difokuskan pada sesuatu yang lebih luas.

Kita senantiasa berkonsentrasi pada hal-hal yang sudah kita ketahui meski berkali-kali gagal. Mengabaikan untuk mempertimbangkan apa yang tidak kita ketahui. Oleh karena itu, kita tidak dapat benar-benar memperkirakan peluang. Terlalu rentan terhadap dorongan menyederhanakan sesuatu, menceritakan, dan mengkategorikan. Tidak cukup terbuka untuk menghargai imajinasi tentang hal-hal yang “mustahil.”

Selama bertahun-tahun Taleb telah mempelajari bagaimana kita membodohi diri sendiri. Berpikir bahwa kita merasa tahu lebih banyak dari yang sebenarnya kita tahu. Kita membatasi pemikiran pada yang tidak relevan dan tidak penting. Sementara kejadian-kejadian besar terus mengejutkan kita dan membentuk dunia yang kita huni ini.

Dalam buku yang diapresiasi sebagai “A masterpiece,” ini Taleb menjelaskan semua yang kita tahu tentang apa yang tidak kita ketahui. Dia memberikan, secara mengejutkan, trik sederhana untuk menangani Angsa Hitam dan mendapatkan manfaat darinya.

Penulis lain, Charles Perrot menyebut Angsa Hitam ini sebagai Normal Accident (1984) atau System Accident. “Normal accident is meant to signal that, given the system characteristics, multiple and unexpected interactions of failures are inevitable.”  Dalam konteks kejadian sehari-hari kita sering mengalami.  Ketika suatu pagi akan membuat kopi, coffee maker ternyata tidak bekerja karena listrik mati. Lupa charge ponsel sehingga tidak bisa menghubungi PLN. Laptop battere low batt, tidak bisa melanjutkan menyelesaikan laporan yang harus segera disubmit siang ini.  Maka harus segera pergi dari rumah ke tempat yang tersedia listrik. Tetapi mobil ternyata dipakai istri yang berangkat lebih pagi dari biasanya.  Mau pesan ojek online, ponsel mati. Dan seterusnya.  Kejadian atau accident satu memicu accident yang berikutnya sehingga keseluruhan sistem kacau balau.  Angsa Hitam menari-nari.  Kita merasa tahu banyak hal.  Rupanya gagal mengantisipasi kejadian-kejadian yang mestinya bisa kita ketahui dengan baik.

“…. our world is dominated by the extreme, the unknown, and the very improbable (improbable according to our current knowledge)—and all the while we spend our time engaged in small talk, focusing on the known, and the repeated,” tulis Taleb.  Sejak masa industrialisasi abad 18, roda pembangunan segala bidang melaju pesat.  Sayangnya kemajuan yang didorong oleh penemuan mesin uap James Watt itu melahirkan “the Silence Spring,” sebuah keruntuhan keseimbangan ekosistem/lingkungan.  The Silence Spring itu adalah Angsa Hitam–sesuatu yang mestinya bisa diperkirakan kalau para pendahulu industri membuka imajinasinya dengan lebih luas dan menerima hal-hal yang mungkin akan terjadi.   

Tetapi planet kita tidak melulu berisi Angsa Hitam.  Ada juga Angsa Abu-abu, “Gray Swan.”  Gray Swan adalah event/kejadian yang dapat diprediksi dan mungkin telah diprediksi, tetapi jika diabaikan terlalu lama akan meledak dengan cara yang dapat mengguncang dunia. Itu seperti yang dijelaskan oleh Elkington.  Lebih lanjut dikatakan, salah satu yang paling jelas adalah tren penuaan di masyarakat modern. Ada banyak manfaat dari hidup lebih lama, tetapi diperkirakan pada tahun 2020 jumlah orang di atas enam puluh lima di dunia akan melebihi jumlah, untuk pertama kalinya dalam sejarah, anak-anak berusia lima tahun ke bawah. Sekali lagi, ada banyak hal yang bisa dikatakan untuk mendukung pengalaman, tetapi seperti yang ditulis Camilla Cavendish dalam bukunya Extra Time, dunia yang menua akan membawa banyak tantangan sistemik yang baru saja kita mulai pikirkan.

Belakangan John Elkington menambahkan konsep baru dengan angsa ini: Green Swans.  Dalam buku terbarunya, “Green Swans: The Coming Boom in Regenerative Capitalism” (2020), Elkington yang merupakan pencetus gagasan triple bottom line di tahun 1994, kemudian dipopulerkan menjadi People, Planet, Profit pada tahun 1995, menjelaskan panjang lebar soal Green Swans itu. Ia merupakan solusi sistemik untuk tantangan global, solusi yang memanfaatkan eksponensial positif, dan “Ugly Ducklings, yang didefinisikan sebagai “inovasi dan lintasan embrio yang dapat membawa kita ke berbagai arah — baik, buruk, atau ganjil.” Sementara itu Black Swan mengacu pada peristiwa yang tidak terduga — dan umumnya tidak dapat diprediksi — yang sebagian besar didorong oleh eksponensial negatif, yang perkembangannya tidak ada yang sama.

Green Swans adalah pandangan yang optimistik tentang dunia/planet.  Elkington yang dianggap sebagai “the “Godfather of Sustainability” ini percaya bahwa planet kita saat ini di bawah kapitalisme telah berada pada situasi U.  Pada situasi U ini kapitalisme tergeletak pada posisi terendahnya yakni dasar huruf U tersebut. Krisis keuangan, harga bahan bakar yang merosot tajam, ketimpangan makin lebar antara kaya dan miskin, kualitas lingkungan yang menurun, perubahan iklim yang hebat, krisis pangan, perang dan seterusnya.

Tetapi seperti layaknya bentuk U yang memberi kesempatan untuk bergerak menanjak ketika tiba pada dasar, maka kapitalisme, menurut Elkington, akan bangkit dengan wajah yang baru, menanjak dan mencapai puncak pada suatu saat berikutnya.  Kapan? Pada jangka pendek, Elkington pesimis.  Tidak mungkin itu terjadi dalam jangka pendek.  Tetapi ia optimis pada jangka panjang.  Berapa lama jangka panjang itu? Tidak ada yang tahu.  Hanya bisa diketahui jika ada tindakan-tindakan radikal yang mengubah secara radikal apa yang telah salah dilakukan dalam beberapa dekade belakangan ini.

Menurut Elkington Green Swan adalah perubahan pasar yang besar, umumnya dipicu oleh beberapa kombinasi tantangan Black Swan atau Gray Swan dan perubahan paradigma, nilai, pola pikir, politik, kebijakan, teknologi, model bisnis, dan faktor kunci lainnya.  Green Swan memberikan kemajuan eksponensial dalam bentuk penciptaan kekayaan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Paling sial, ia bisa mencapainya dalam dua dimensi sambil mempertahankan kestabilan ketiga.  Mungkin ada periode penyesuaian di mana satu atau lebih dimensi berkinerja buruk, tetapi tujuannya adalah terobosan terintegrasi dalam ketiga dimensi tersebut (ekonomi sosial lingkungan).

Angsa Hijau ini luar biasa — dalam arti bentuk kemajuan yang luar biasa — didorong dan dibentuk oleh eksponensial positif. Ibaratnya, dalam pasangan yang counterintuitive, mereka sering muncul seperti burung phoenix dari abu yang ditinggalkan oleh Black Swans. Bayangkan saja misalnya alam yang dapat pulih dan berkembang pesat, menjadi subur setelah gunung berapi meletus atau setelah tekanan penangkapan ikan yang merusak dihilangkan. Namun, umumnya Green Swans cenderung tidak mengejutkan kita. Karena biasanya kita harus merencanakan dan bekerja untuk itu selama periode waktu yang cukup lama.

Menarik membandingkan antara Black Swan dan Green Swans seperti tabel berikut ini (dikutip dari Elkington, 2020).

  Black Swans Green Swans
Karakteristik Seringkali degeneratif Membarui
  Tidak direncanakan (dengan beberapa pengecualian) Direncanakan (dengan beberapa pengecualian)
  Eksponensial Eksponensial
  Sangat tidak terduga Diperkirakan, sampai taraf tertentu
  Siklus berbahaya, terutama Siklus bajik, terutama
  Merongrong ketahanan, mendorong kerapuhan Bangun ketahanan, promosikan “anti-kerapuhan”
  Merampok generasi masa depan Hadiahi generasi mendatang
  Semakin tidak berkelanjutan Semakin berkelanjutan
     
Dampak Seringkali mendorong kerusakan Mendorong terobosan
  Menghasilkan dampak negatif bersih di seluruh TBL (Triple Bottom Line) Menghasilkan dampak positif bersih di seluruh TBL
  Korosi modal sosial, melalui siklus menyalahkan dan malu yang semakin intensif Umumnya membutuhkan modal sosial yang kuat untuk mencapainya — dan juga membantu membangunnya
  Sebaliknya, dapat memicu konsekuensi positif yang tidak diinginkan, termasuk solusi Green Swan Berlawanan dengan intuisi, dapat memicu konsekuensi negatif yang tidak diinginkan, Angsa masa depan atau Angsa Hitam

Lantas Indonesia ini memelihara angsa yang mana? Sebagai negara dengan hot spots mega biodiversity, tentu tiga angsa itu bercokol semua.  Yang mana yang dominan?

Dalam The Sustainable Development Report (2020) Indonesia hanya bertengger pada peringkat 101 (Score 67.2) dari 166 negara.  Terdapat 7 Goals yang mendapatkan nilai merah (paling buruk). Ada 7 Goals lagi yang buruk.  Tidak satu pun Goals SDG yang tercapai. Posisi Indonesia juga cukup buruk dalam the Global Sustainability Competitiveness Index (2019), hanya pada peringkat 66 dari 135 negara yang dinilai. Bahkan kalah dari Ethiopia (50), Korea Selatan (27).  Nampaknya penggembala angsa hitam menguasai bumi nusantara. 

Apa yang harus dilakukan?  Adalima hal yang disarankan oleh Elkington: Bea leader not algorithm, take the anthropocenic route, unclog your own U-bend, ridea green swan, joint the Green Swan road show.  Dengan kata lain jika Angsa Hijau inimenawarkan kebaikan dan keberlangsungan manusia di planet bumi ini maka sudahselayaknya kita terlibat menggembalakan Angsa Hijau ini.  Menjadi sontoloyo bagi Angsa Hijau.

Download dokumen? hubungi happytd@latin.or.id

Nama
Alamat 
Alamat email dan nomor kontak