Sustainability Associate Manager
July 14, 2021
400 Years Giant Cedar Trees in Japan
July 14, 2021
Show all
WhatsApp Image 2021-06-17 at 14.05.23
dwi rahmad

Sustainability 17A #9


Dwi R. Muhtaman,

sustainability learner

Kita menyebut tanah air sebagai Ibu Pertiwi. Kosakata Inggris menyebut bumi sebagai mother’s earth. Bumi disebut she, bukan he. Dalam khasanah tradisi di Toraja, rumah masyarakat Toraja selalu diukir dengan simbol-simbol kepala burung yang menunjukkan keanggunan dan femininity, sifat keperempuanan. Ukiran matahari terbit menyimbolkan enerji dan kehidupan pada segala hal yang tumbuh dan itu diasosiakan dengan perempuan. Disamping, tentu saja, terdapat simbol-simbol laki-laki, misalnya seperti gambar kerbau yang menunjukkan kekuatan, kekayaan dan kejantanan.[i]

Alam selalu menjadi, bukan saja simbol tetapi, bagian penting dari perempuan. “Nature is a feminist issue,” kata Karen J. Warren dalam tulisannya Ecofeminism: women, culture, nature (1997). Pengabaikan terhadap alam sebagai ibu telah terbukti kerusakan dimana-mana. Ini seperti juga dicatat oleh Vandana Shiva (2014) bahwa pada awal sejarah, perempuan dianggap memainkan peran yang sepele dibandingkan laki-laki dalam masyarakat. Mereka tidak setara, diperlakukan tidak adil, dan dikambinghitamkan. Shiva memandang ideologi patriarki sebagai alasan mengapa umat manusia memilih untuk mengabaikan dan menggantikan spesies yang berbeda di dunia biologis. Hasilnya adalah hilangnya keanekaragaman hayati karena model patriarki mendorong “menuju monokultur, keseragaman, dan homogenitas.” Hasilnya adalah sistem dimana “marginalisasi perempuan dan perusakan keanekaragaman hayati berjalan seiring.”

Pada tahun 1974, dua puluh tujuh perempuan Reni di India Utara melakukan aksi protes  sederhana namun efektif untuk menghentikan penebangan pohon. Mereka mengancam akan memeluk pohon jika penebang pohon berusaha untuk menebangnya. Protes perempuan, yang dikenal sebagai gerakan Chipko (bahasa Hindi untuk “merangkul” atau “pelukan”), menyelamatkan 12.000 kilometer persegi daerah aliran sungai yang sensitif. Gerakan akar rumput, non-kekerasan, yang diprakarsai oleh perempuan ini juga memberikan visibilitas terhadap dua keluhan dasar perempuan lokal: penebangan komersial oleh kontraktor merusak sejumlah besar pohon yang belum ditebang, dan perkebunan monokultur jati dan eukaliptus menggantikan hutan adat yang berharga.

Di sebuah desa di Uttar Pradesh pada tahun 1973, sekarang di Uttarakhand, dimana Gerakan Chipko modern lahir di bawah naungan Sunderlal Bahuguna, seorang dari Garhwa (Jharkhand, India) yang terkenal peduli pada lingkungan hidup.  Bentuk perlawanan terkuat terhadap penebangan pohon yang merajalela, dimana orang-orang menegaskan hak mereka atas alam, bersumpah untuk melindunginya.  Gerakan jenis Chipko berasal dari tahun 1730 Masehi ketika di Desa Khejarli, Rajasthan, 363 orang dari suku Bishnoi mengorbankan hidup mereka untuk menyelamatkan pohon khejri (semacam cemara). Perempuan bernama Amrita Devi memimpin gerakan pada abad ke-18 dan meletakkan hidupnya bersama dengan sekelompok penduduk desa sambil melindungi pohon-pohon dari penebangan atas perintah Raja Jodhpur. Setelah insiden ini, Raja, dalam dekrit kerajaan, melarang penebangan pohon di semua desa Bishnoi.

Gerakan modern adalah protes kolektif yang dilakukan oleh rakyat pedesaan, berdasarkan prinsip-prinsip non-kekerasan Gandhi. Ini adalah cara terpadu untuk menghentikan pembantaian di kaki bukit Himalaya. Atas nama pembangunan, kontraktor hutan menebang pohon-pohon, dan menjarah kayu. Pemberontakan melawan penebangan pohon dan mempertahankan keseimbangan ekologi berasal dari distrik Chamoli (sekarang Uttarakhand) pada tahun 1973 dan dalam waktu singkat tumpah ke negara-negara lain di India utara.[ii]

Gerakan Chipko adalah gerakan penyelamatan pohon, terutama hutan adat. Tetapi ini juga menunjukkan hubungan penting antara perempuan: pohon dan hutan terkait erat dengan ekonomi pedesaan dan rumah tangga yang diatur oleh perempuan, terutama di negara-negara Dunia Ketiga.  Persoalan penebangan pohon adalah tentang perempuan juga.

Sayangnya seperti di banyak negara tropika hutan sebagai rumah bagi spesies pohon multikultur telah digantikan oleh spesies monokultur, terutama eukaliptus. Hutan tanaman menguasai wilayah-wilayah yang tadinya adalah hutan alam dengan keragaman pohon dan aneka flora fauna.  Di India tahun 1990-an eukaliptus sangat tidak populer di kalangan perempuan lokal. Menurut Warren, perempuan lokal tidak menyukai perkebunan eukaliptus karena empat hal krusial di mana pohon, hutan, dan kehutanan menjadi isu feminis, yaitu bagaimana pemahaman hubungan empiris antara perempuan dan pohon meningkatkan pemahaman seseorang tentang subordinasi wanita.

Pertama, di negara berkembang perempuan lebih bergantung daripada laki-laki pada hasil pohon dan hutan. Pohon menyediakan lima elemen penting dalam ekonomi rumah tangga ini: makanan, bahan bakar, pakan ternak, produk untuk rumah (termasuk bahan bangunan, peralatan rumah tangga, taman, pewarna, obat-obatan), dan pendapatan.

Kedua, perempuan adalah penderita utama degradasi lingkungan dan penipisan sumber daya hutan. Ini karena perempuan yang harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan kayu bakar dan makanan ternak dan yang harus membawa semuanya kembali (misalnya, tanpa bantuan hewan). Wanita di New Delhi, menurut sebuah perkiraan, berjalan kaki rata-rata sepuluh kilometer setiap tiga atau empat hari selama rata-rata tujuh jam setiap kali hanya untuk mendapatkan kayu bakar. Di kampung-kampung Nusantara kayu bakar juga masih umum dipakai.  Kaum perempuan harus mencari dan mengangkutnya dari tepi-tepi hutan.  Karena semakin banyak pria mencari pekerjaan di kota-kota, wanita harus melakukannya. Pekerjaan yang tadinya dilakukan laki-laki kini harus dikerjakan perempuan.  Ditambah lagi tugas yang melelahkan untuk mengumpulkan dan memproses hasil hutan di tanah yang rusak. Menurunnya ketersediaan hasil hutan sebagai sumber pendapatan menyengsarakan kaum perempuan tanpa penghasilan alternatif.

Ketiga, perempuan menghadapi adat istiadat, tabu, dan batasan hukum dan waktu yang tidak dihadapi laki-laki. Misalnya, di antara suku Ibo–sebuah suku di Nigeria, laki-laki memiliki pohon kayu dan perempuan mengontrol penggunaan pohon pangan; perempuan tidak dapat mewarisi pohon ekonomi, meskipun mereka memiliki hak untuk dipertahankan dari hasil pohon milik orang tuanya.  Keempat, pohon, hutan, dan kehutanan adalah masalah feminis.

Dengan kata lain pohon, hutan dengan segala isinya, dan penggundulan hutan, air, kekeringan, dan penggurunan hingga urusan produksi makanan, kemiskinan, dan limbah beracun semuanya akan menyangkut soal perempuan.  Perempuanlah yang terdampak paling parah jika ada kerusakan lingkungan.

Dengan kesadaran itu maka muncullah gerakan ecofeminist, feminis ekologi.  Meski awalnya merupakan gerakan lingkungan tetapi berkembang menjadi gerakan yang mencakup juga hubungan penting antara perlakuan terhadap perempuan, rasial, dan kelas bawah di satu sisi dan perlakuan terhadap sifat nonmanusia di sisi lain. Feminis ekologi mengklaim bahwa gerakan ini penting untuk membebaskan perempuan dari tindakan-tindakan yang memarjinalkan perempuan dalam setiap lini pembangunan.   

Feminisme adalah gerakan yang berkomitmen untuk menghilangkan malegender kekuasaan dan hak istimewa, atau seksisme. Terlepas dari perbedaan di antara feminis, semua feminis setuju bahwa seksisme itu ada, salah, dan harus diubah. Tetapi sementara feminisme pada awalnya dipahami sebagai gerakan untuk mengakhiri penindasan seksis, feminis akademis telah melihat bahwa pembebasan perempuan tidak dapat dicapai sampai semua perempuan dibebaskan dari berbagai penindasan yang menyusun struktur kita.

Ekofeminisme atau Feminisme ekologis berakar pada beragam feminisme (misalnya, feminisme liberal, feminisme marxis, feminisme radikal dan sosialis, feminisme hitam dan dunia ketiga). Apa yang membuat ekofeminisme berbeda adalah pandangan bahwa  nonhuman nature and naturism (i.e., the unjustified domination of nature) adalah pada dasarnya isu-isu feminis.  Menurut ekofeminist, alam adalah isu feminis.

Bagaimanapun, demikian kata Warren, tanpa diragukan lagi, pohon, hutan, dan kehutanan adalah isu ekofeminisme. Kondisi lingkungan yang terus memburuk akan berakibat banyak pada pada perempuan.  Misalnya hanya 8 persen dari persediaan air dunia yang segar atau dapat diminum. Jutaan manusia mengalami kesulitan mendapatkan air yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka, sekitar lima liter sehari. Di lebih dari separuh negara berkembang, kurang dari 50 persen penduduknya memiliki sumber air minum atau fasilitas pembuangan limbah. WHO, Organisasi Kesehatan Dunia, memperkirakan bahwa sekitar 85 persen dari semua penyakit dan penyakit di negara-negara di belahan bumi selatan disebabkan oleh air atau sanitasi dan sebanyak 25 juta kematian setahun disebabkan oleh air

penyakit.

Sekitar lima belas juta anak meninggal setiap tahun sebelum mereka berusia lima tahun; empat juta di antaranya meninggal karena diare dan terkait air terkait penyakit. Di belahan bumi selatan, wanita dan anak-anak melakukan sebagian besar bekerja mengumpulkan air.

Karena menipisnya sumber daya alam, perempuan juga harus melangkah lebih jauh untuk air (misalnya, satu hingga lima belas kilometer setiap hari melalui medan yang berat di Uttarakhand, India). Pada Agustus 2019 sejumlah kecamatan di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia, wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kesulitan air bersih akibat kemarau. Kecamatan Embaloh Hulu, Badau, Empanang, dan Puring Kencana, serta sejumlah daerah di Batang Lupar.[iii]

Pulau Jawa termasuk salah satu kawasan yang terancam kehabisan air pada 2040 bila sumber daya air yang ada tidak dikelola, walaupun Indonesia menyimpan 6% potensi air dunia. Warga Desa Klepu, Pacitan, Jawa Timur, termasuk warga yang sudah merasakan dampaknya. Ia terpaksa berjalan kaki naik-turun lanskap berbukit, menuju sebuah gua vertikal yang berjarak satu kilometer dari rumahnya. Sumur yang berada 100 meter dari tempat tinggal telah mengering sehingga air yang ada di dalam gua menjadi satu-satunya sumber air yang bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya secara gratis.[iv]

Biasanya wanita dan anak-anak yang mengumpulkan air, perempuan dan anak-anaklah yang mengalami risiko kesehatan yang lebih tinggi secara tidak proporsional dengan adanya air yang tidak sehat. Setiap tahun jutaan orang, terutama wanita, terkena penyakit besar yang didapat saat mengambil air.  Air minum sering kali diambil dari pemandian umum dan tempat pencucian, dan tempat yang sama sering digunakan sebagai toilet umum–sesuatu yang sangat umum kita jumpai di Indonesia.

Air yang tercemar bukan hanya menjadi masalah negara-negara di belahan bumi selatan. Pada tahun 1980, Amerika Serikat menghasilkan puluhan miliar ton limbah berbahaya, cukup untuk mengisi kurang lebih 3.000 kanal. Pada pertengahan 1970-an, 90 persen limbah berbahaya dibuang secara tidak benar. “Limbah ini punya berkontribusi terhadap pencemaran air tanah pada basis lokal di semua bagian negara dan pada basis regional di beberapa daerah berpenduduk padat dan industri.

Menurut Laporan FAO: The State of Food Security and Nutrition in the World 2020, secara global dan di setiap wilayah, prevalensi kerawanan pangan sedikit lebih tinggi pada wanita dibandingkan pada pria.  Wanita hamil dan menyusui dan remaja putri yang memiliki energi makanan yang lebih tinggi dan kebutuhan zat besi, meningkatkan biaya untu kmendapatkan diet yang cukup sehat.  Jarak ke pasar makanan dan waktu diperlukan untuk menyiapkan makanan sehat pada kehidupan urbanisasi yang cepat dan peningkatan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi juga bisa dilihat sebagai sumber biaya karena orang yang mencoba untuk mengatasinya harus menerima biaya tambahan selain biaya makanan itu sendiri.

Perempuan masih berpeluang mengalami 13 persen lebih tinggi rawan pangan sedang atau berat dibandingkan laki-laki, dan peluang menjadi hampir 27 persen lebih tinggi sangat rawan pangan di tingkat global. Temuan ini FOA juga menunjukkan adanya bentuk-bentuk diskriminasi yang membuat akses ke makanan lebih sulit bagi perempuan, meski mereka memiliki penghasilan yang sama dan tingkat pendidikan dan tinggal di daerah serupa dengan pria.

Pada sektor pertanian diperkirakan petani perempuan menanam setidaknya 59 persen dari makanan dunia, mungkin sebanyak 80 persen. Antara sepertiga dan satu bagian dari pertanian buruh di Dunia Ketiga adalah wanita. Namun pembagian kerja berdasarkan gender biasanya menempatkan pria yang bertanggung jawab atas tanaman komersial sementara wanita mengelola tanaman pangan. Wanita di Afrika menghasilkan lebih dari 70 persen makanan Afrika, biasanya tanpa traktor, lembu, atau bahkan bajak. 

Kesengsaraan perlakukan yang membatu pada perempuan itu sempat mendapatkan angin segar.  Itu ketika PBB pada tahun 1975 menetapkan sebagai International Women’s Year yang kemudian menjadi landasan dengan perseteruan sengit untuk menetapkan the UN Decade for Women 1976.  Bersamaan dengan Dekade Perempuan dilakukan pertemuan internasional yang fokus membahas perempuan yakni di Mexico City, Copenhagen pada 1980 dan Nairobi pada 1985.

Keberadaannya the UN Decade for Women ini dengan tiga konferensi internasional mempromosikan dan memberi legitimasi gerakan wanita internasional. Ribuan perempuan menjadi peserta dalam forum paralel diselenggarakan oleh organisasi non-pemerintah (LSM) yang berafiliasi dengan PBB, dan puluhan ribuan dimobilisasi oleh proses di negara masing-masing di seluruh dunia.[v]

Perempuan sebagai topik perdebatan politik yang sah masuk ke dalam arena internasional selama Dekade Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk wanita. Meskipun sudah ada Komisi Status Perempuan di PBB selama lebih dari 25 tahun, ternyata hanya di Tahun 1970-an isu-isu perempuan menjadi pusat perhatian. Antara 1975 dan 1985, ada tiga konferensi PBB yang diadakan di Mexico City, Kopenhagen dan Nairobi yang dipertemukan wanita dari seluruh dunia. Meskipun tujuan dari konferensi itu adalah untuk mempromosikan dialog dan pemahaman di antara wanita dunia, ada perpecahan yang dalam diantara mereka sejak awal. Terjadi perdebatan antara kubu sosial dan kapitalis.[vi]

Namun demikian dalam pandangan Judith P. Zinsser the UN Decade for Women (1975-1985), adalah peristiwa penting yang revolusioner tidak hanya bagi perempuan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa tetapi juga bagi laki-laki dan sejarah. Revolusi yang tenang, yang justru diabaikan oleh media. Dengan gerakan kecil yang mengarahkan dari satu tindakan ke tindakan lainnya, dengan halaman laporan, dengan transkrip pertemuan, dengan demonstrasi dan petisi yang direncanakan dengan hati-hati, dengan perhatian dan keyakinan yang begitu berat, wanita di dunia tidak lagi menjadi “mayoritas yang tidak terlihat” dan mereka dengan lantang memimpin sidang dan membuat keputusan penting.[vii]

Tetapi selepas perayaan the UN Decade for Women itu perempuan masih tidak mendapat tempat yang layak dalam pengelolaan sumberdaya alam, termasuk dalam dunia pertanian.  Menurut Mayra Buvinic dan Sally Yadelman, yang dikutip Warren, biasanya, petani perempuan bekerja lebih lama, memiliki aset lebih sedikit dan pendapatan lebih rendah daripada petani laki-laki, dan memiliki tanggungan yang harus didukung hampir sama banyaknya. Perbedaan tersebut termasuk kurangnya pendidikan atau kompetensi. Petani perempuan lebih miskin karena akses mereka terhadap kredit terbatas. Tanpa kredit mereka tidak dapat memperoleh aset produktif, seperti ternak, pupuk atau bibit unggul, untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja.  Perhatikan tanaman umbi singkong di Afrika. Singkong sangat penting di beberapa bagian Afrika pada saat kelangkaan. Wanita melakukan 70 hingga 80 persen dari penanaman dan panen ubi kayu itu dan 100 persen prosesnya, yang mencakup pencucian sianida alami yang ditemukan di dalamnya (proses yang memakan waktu delapan belas lima jam hari).

Menurut Shiva, di negara berkembang, 79% wanita yang aktif secara ekonomi menghabiskan jam kerja mereka memproduksi makanan, bekerja di pertanian. Perempuan adalah 43% dari angkatan kerja pertanian. … Hasil panen untuk petani perempuan 20-30 persen lebih rendah dari pada laki-laki. Ini karena perempuan memiliki akses yang lebih sedikit ke benih, pupuk dan peralatan yang lebih baik. Memberi petani perempuan lebih banyak sumber daya dapat menurunkan jumlah orang yang kelaparan di dunia sebanyak 100 – 150 juta orang.

Masyarakat mengandalkan sumber daya hayati sebagai sumber kemakmuran ekonomi. Keanekaragaman hayati, oleh karena itu, menjadi alat produksi. Komunitas ini mencari nafkah dengan menggunakan aspek konservasi dan praktik berkelanjutan untuk bertahan hidup. Namun, praktik ini sering dianggap primitif dibandingkan dengan praktik yang biasa kita lakukan dan “digantikan oleh teknologi progresif yang menghancurkan keragaman dan mata pencaharian masyarakat”. Di negara-negara ini, tanggung jawab pertanian didominasi oleh pekerjaan perempuan; namun, tanggungjawab ini sering kali diabaikan. Berbagai pekerjaan perempuan yang berhubungan di dalam dan di luar rumah tangga tidak dapat diukur dalam upah atau gaji. Padahal perempuan menyediakan sarana keberlanjutan bagi keluarga dan komunitas.

Wanita merupakan sekitar 43 persen dari angkatan kerja pertanian global dan di negara-negara berkembang, tetapi angka ini diluar variasi yang cukup besar di seluruh wilayah dan di dalam negara-negara menurut usia dan kelas sosial. Kontribusi perempuan untuk pertanian dan produksi pangan jelas signifikan. Partisipasi perempuan dalam pasar tenaga kerja pedesaan menunjukkan banyak heterogenitas di tingkat regional. Tetapi perempuan lebih banyak terlibat dalam pekerjaan yang tidak berbayar, musiman dan paruh waktu. Jika pada pekerjaan formal perempuan seringkali dibayar lebih rendah daripada laki-laki, untuk pekerjaan yang sama.[viii]

Dalam banyak budaya, perempuan memainkan peran penting dalam pelestarian keanekaragaman hayati. Namun kini perempuan terpinggirkan di sektor pertanian. Kepedulian terhadap keanekaragaman hayati, meskipun pada dasarnya adalah keseharian perempuan, tetapi makin menjadi-jadi saat adanya penolakan ekspansi produksi pertanian berbasis monokultur: “keseragaman tanaman. . . merusak keanekaragaman sistem biologis yang membentuk sistem produksi. Merusak mata pencaharian orang-orang yang pekerjaannya terkait dengan sistem kehutanan, pertanian, dan peternakan yang beragam dan serbaguna.” Pertanian terfragmentasi sebagai model patriarki berdasarkan pada memaksimalkan keuntungan yang masuk ke dalam pangkuan para pemodal. Peran tradisional perempuan dalam komunitas dikesampingkan saat cara hidup baru muncul — cara yang memilih untuk mengabaikan kebutuhan dan pentingnya dunia terhadap keanekaragaman hayati.

Keanekaragaman hayati memiliki nilai intrinsik: “wanita menghasilkan sesuatu melalui keanekaragaman hayati, sedangkan ilmuwan perusahaan menghasilkan melalui keseragaman,” tulis Shiva. Kemajuan teknologi yang meningkat di bidang pertanian, menurut Shiva, telah menggantikan peran perempuan di komunitas pedesaan di India. Tetapi kalau kita perhatikan dengan seksama fenomena itu telah merambah secara global, apalagi di Indonesia.  Di mana peran tradisional perempuan yang dipandang sebagai penjaga tanah, kini mereka dipandang sebagai konsumen yang perlu mencari nafkah untuk membeli produk yang dijejalkan tanpa henti. Model pertanian baru ini, di bawah hierarki patriarki, telah merongrong pentingnya perempuan dalam komunitas. Dan mendorong ke arah praktik yang berpuas diri dalam penghancuran dunia keanekaragaman hayati.

Hari Ibu yang selalu kita rayakan pada 22 Desember sepantasnya menjadi refleksi untuk menempatkan Ibu, kaum perempuan pada tempatnya yang terhormat.  Mengapresiasi kemampuan mereka merawat bumi di luar rumah dan juga bumi di dalam rumah.


[i]  Eric Crystal: Myth, Symbol and Function of The Toraja House.  Traditional Dwellings and Settlements Review, Vol. 1, No. 1 (FALL 1989), pp. 7-17.  Diterbitkan oleh International Association for the Study of Traditional Environments (IASTE)

[ii] https://www.tagar.id/gerakan-chipko-di-india-memeluk-pohon-untuk-menghentikan-aksi-penebangan

[iii] https://republika.co.id/berita/pwkgml415/masyarakat-perbatasan-terpaksa-mencari-air-bersih-di-parit

[iv] https://www.bbc.com/indonesia/media-49249614

[v] Irene Tinker dan Jane Jaquette dalam artikelnya berjudul: UN Decade for Women: Its Impact and Legacy (World Development. Vol. 15. No. 3. pp. 419-427. 10X7).

[vi] Kristen Ghodsee. Revisiting the United Nations decade for women: Brief reflections on

feminism, capitalism and Cold War politics in the early years of the international women’s movement.   Women’s Studies International Forum 33 (2010) 3–12

[vii] Judith P. Zinsser, EducationThe United Nations Decade for Women: A Quiet Revolution. Source: The History Teacher, Vol. 24, No. 1 (Nov., 1990), pp. 19-29.  Published by: Society for History Education.

[viii] http://iaas.or.id/women-in-agriculture/

Dokumen dapat diunduh sebagai berikut: