Belajar dari Hutan: Mahasiswa SUSS dan IPB University Dalami Ketahanan Pangan Berbasis Sosial Forestri di Bogor

0
4 months ago
Sesi Foto Bersama Mahasiswa SUSS dan IPB University pada program Interdisciplinary Global Learning. Foto: LATIN

Bogor, 15-16 Desember 2024 – Hutan bukan sekadar paru-paru dunia, tetapi juga sumber pangan dan kesejahteraan masyarakat jika dikelola dengan bijak. Hal ini dipelajari langsung oleh 45 mahasiswa dari Singapore University of Social Sciences (SUSS) dan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University dalam program Interdisciplinary Global Learning bertema “Membangun Ketahanan Pangan melalui Sosial Forestri”. Selama dua hari penuh di Desa Barengkok, dan Kampung Cibulao, Bogor, para mahasiswa menggali bagaimana skema Sosial Forestri dapat menjadi solusi konkret dalam menjaga ekosistem hutan sekaligus mendukung ketahanan pangan berbasis komunitas.

Program ini mengkombinasikan interdisciplinary learning dan experiential learning yang memungkinkan mahasiswa untuk mengimplementasikan teori yang yang didapat  kedalam  praktik langsung di lapangan. Mahasiswa diajak menyusuri kawasan hutan yang dikelola secara berkelanjutan, memahami konsep agroforestri, mendalami proses produksi komoditas yang dikembangkan di hutan Sosial Forestri, termasuk  kopi , serta melihat diversifikasi mata pencaharian masyarakat setempat. Melalui rangkaian kegiatan ini, para peserta belajar bagaimana Sosial Forestri atau pengelolaan hutan berbasis masyarakat  mampu menggabungkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial dalam satu kesatuan yang saling mendukung.

Lebih dari itu, program ini menjadi wadah kolaborasi generasi muda dengan masyarakat lokal, memupuk kesadaran tentang pentingnya pengelolaan hutan berkelanjutan demi masa depan ketahanan pangan global. Dengan tema besar “Sosial Forestri” sebagai pondasi, mahasiswa SUSS dan IPB University diharapkan dapat membawa wawasan baru dan menjadi agen perubahan yang mendorong solusi berkelanjutan di berbagai belahan dunia.

Program dimulai di Desa Barengkok, di mana mahasiswa disambut dengan aroma kopi segar dari Kopi Patani, sebuah komunitas yang memadukan kearifan lokal dengan sistem agroforestri. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang karakteristik kopi dan teknik budidayanya, tetapi juga memahami pentingnya sistem agroforestri dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka diajak menjelajahi kawasan agroforestri yang ditanami pohon produktif seperti durian, markisa, cempedak, manggis, lada, dan pisang, yang membuktikan bagaimana sistem ini mampu melestarikan lingkungan sekaligus menjadi sumber pangan dan penghasilan tambahan bagi masyarakat. Di lokasi produksi kopi, peserta mempelajari seluruh tahapan proses dari pemilihan biji, pengeringan, penggilingan tradisional, hingga teknik penyeduhan khas Indonesia seperti menggunakan bamboo drip dan pulled coffee. Aktivitas ini ditutup dengan praktik coffee cupping, dimana mahasiswa mencicipi hasil olahan kopi yang mereka proses sendiri.

Selain belajar tentang kopi, mahasiswa juga mengikuti sesi kerajinan hasil hutan non-kayu, seperti membuat sedotan dari pakis hutan. Aktivitas ini memperkenalkan potensi ekonomi dari hasil hutan yang dikelola secara bijak, sekaligus memberikan pemahaman bahwa keberlanjutan tidak hanya terbatas pada aspek pangan, tetapi juga kerajinan dan industri kreatif. Salah satu peserta, Tomiko, mengungkapkan kekagumannya, “Agroforestri dan Kopi Patani adalah contoh bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Ini sangat menginspirasi.”

Pada hari kedua, kegiatan berlanjut di Kampung Wisata Cibulao, Tugu Utara, sebuah kawasan yang telah berkembang pesat melalui skema Sosial Forestri. Mahasiswa diajak mendalami konsep ekowisata berbasis masyarakat dan diversifikasi mata pencaharian. Forest trekking menjadi pembuka kegiatan hari itu, dengan melintasi perkebunan teh, kopi robusta, dan arabika. Dalam perjalanan, mereka mempelajari teknik budidaya kopi, tantangan dalam menjaga kualitas produksi, hingga mencoba langsung memanen biji kopi. Di kampung ini, mahasiswa mempelajari transformasi kawasan yang sebelumnya terisolasi menjadi kampung wisata yang memberdayakan komunitas melalui pengelolaan hutan berbasis Sosial Forestri. Mereka juga diperkenalkan pada proses pasca panen kopi, seperti pengeringan, penyortiran, dan pemanggangan untuk menghasilkan produk siap jual.

Kegiatan di Cibulao juga mengajarkan mahasiswa tentang pengelolaan ekowisata yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat tanpa merusak ekosistem. Mahasiswa mendapatkan pembelajaran bagaimana masyarakat setempat mengelola Gayonggong, kawasan penginapan dengan konsep eco-edutourism.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat langsung bagaimana agroforestri, ekowisata, dan pengolahan kopi tradisional dapat menjadi contoh kolaborasi manusia dan alam yang saling menguntungkan. Salah satu mahasiswa mengungkapkan, “Program ini membuka wawasan kami tentang pentingnya menjaga hutan sebagai kunci ketahanan pangan dan kesejahteraan komunitas. Ini menjadi pelajaran berharga yang harus diterapkan di berbagai belahan dunia.” Dasim, pengelola Kopi Cibulao, juga menyampaikan harapannya, “Generasi muda harus menjadi pelopor dalam menjaga kelestarian hutan dan mempromosikan praktik berkelanjutan yang telah dilakukan masyarakat lokal selama ini.”

Leave a Reply