LATIN-Canopi Rimbawan: Studi Lapang Kesetaraan Gender dan Pendampingan di Perhutanan Sosial

0
2 years ago
tudi Lapang Kesetaraan Gender dan Pendampingan di Perhutanan Sosial

Senin 10/07/2023, 10.00 WIB


FGD oleh perwakilan Kelompok Tani Hutan, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE).
Senin (03/07),
Foto: Taufik Saifulloh


Survey kuesioner dilakukan oleh tim LATIN dan Canopi Rimbawan kepada responden acak yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan GAPOKTAN Wana Lestari. Minggu (02/07), Foto: Taufik Saifulloh & Miftahul Khairurrahman

LOMBOK TENGAH, LATIN.OR.ID – Seluruh sumber daya dan kekayaan alam berada di bawah kekuasaan negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat adalah amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Hak dan tanggung jawab pengelolaan hutan dipegang oleh instansi pemerintahan yang bekerjasama dengan perusahaan dalam bentuk Hak Guna Usaha (HGU) selama bertahun-tahun lamanya. Usaha pemerintah dalam menjaga hutan dinilai belum efektif karena penduduk desa yang tinggal di sekitar hutan hanya dijadikan buruh dan tetap hidup dalam kemiskinan.
Pemberian izin pengelolaan hutan dalam skema Hutan Kemasyarakatan (HKm) kepada masyarakat Desa Karang Sidemen pada tahun 2010 memberikan secercah harapan bagi masyarakat untuk penghidupan yang lebih baik sekaligus kelestarian ruang hidup mereka.

Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) terkait peran perempuan dalam pengelolaan hutan dan peran pendampingan secara partisipatif di Rumah Ketua GAPOKTAN Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. FGD dihadiri oleh 18 orang perempuan dan 15 orang laki-laki yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) pada hari Senin (03/07).

FGD dilakukan sebagai salah satu metode penggalian data dalam mendukung kegiatan LATIN bersama Canopi Rimbawan dalam kolaborasi riset terkait kesetaraan gender dan pendampingan Perhutanan Sosial di Kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Desa Karang Sidemen. Studi lapang ini akan mendokumentasikan praktik-praktik sosial forestri yang dilakukan masyarakat diantaranya, partisipasi gender, capaian, hambatan, peluang serta tantangan dalam pengelolaan hutan. Hasil dari studi ini akan digunakan sebagai parameter keberhasilan dan dampak Perhutanan Sosial dalam bentuk Wakanda Indeks (Wana Kanaya Sembada Indeks). “Di desa ini laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja keras untuk mengurus hutan. Perempuan tidak takut masuk hutan dan ikut mencangkul.”, tutur ibu Juariyah, salah satu peserta FGD dari Dusun Persil, Desa Karang Sidemen. Pernyataan Ibu Juariyah kurang lebih mencerminkan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan di Desa Karang Sidemen dalam pengelolaan hutan. Kesetaraan akses ini tidak serta merta menentukan kesetaraan kontrol terhadap sumber daya yang ingin dibuktikan dalam riset lapangan ini.

Riset lapangan sedang berlangsung sejak hari Minggu (02/07) hingga dua minggu mendatang dengan metode survei kuesioner, wawancara mendalam dan diskusi-diskusi intensif. Delapan orang tim survey dari LATIN dan Canopi Rimbawan melakukan pengumpulan data di Desa Karang Sidemen (IUPHKm 403 hektar dengan anggota 741 KK) Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Penentuan responden dilakukan secara acak (random sampling) kepada seluruh anggota Kelompok Tani Hutan yang tergabung dalam GAPOKTAN Wana Lestari. Sedikitnya akan ada lima puluh keluarga menjadi responden dengan komposisi keterwakilan laki-laki dan perempuan yang seimbang. Studi ini diharapkan akan merekomendasikan perbaikan pengelolaan Perhutanan Sosial yang efektif.

Penulis: Taufik Saifulloh
Penyunting: Febri Sastiviani Putri Cantika

Leave a Reply