MENDAKI RINJANI, Perjalanan menuju Plawangan Sembalun yang Luar Biasa

Situs Megalitikum Cibalay Bogor, harta karun yang tersembunyi
November 26, 2018
Society’s Ability to Forget has Become Suspended, Replaced by Perfect Memory”
December 20, 2018
24 JAN
Sudah 25 tahun lebih, saya tidak mendaki gunung. Ajakan mendaki di usia yg tidak muda lagi membuat keraguan bercampur exiting yang bercampur aduk. Memberanikan diri mengukur kemampuan fisik dengan memompa semangat, membaca pengalaman pendaki wanita usia lebih dari 40 tahun.. dan maka terjadilah .. pada tanggal 18 Agustus 2013, saya dan suami dengan 2 anak perempuan bersama 5 orang teman yang lain berangkat menuju gunung eksotis di pulau Lombok : Rinjani!

Memang dalam rencana, saya bersama 5 teman yang lain mendaki melalui jalur Plawangan Sembalun, lalu menuju puncak dan turun ke danau Segara Anak. Di jalur lain, anak-anak saya bersama ayahnya melalui jalur Plawangan Senaru menuju danau Segara Anak.

Perjalanan memulai pendakian sangat melelahkan.. melampaui padang yang sangat terik seolah tak ada ujungnya.. Berjalan terus… terus… dan terus mulai pukul 10 pagi hingga melalui POS 1. Sepanjang perjalan bertemu teman teman mahasiswa yang susul menyusul dan bertegus sapa di sepanjang perjalanan. Beberapa wisatawan asing juga terlihat dari mulai asal Jepang atau Perancis.. tak kenal lelah menyusuri jalan yang panjang dan berliku…Hingga dan akhirnya sampailah kita di POS 2 untuk istirahat makan siang sekitar pukul 14.00.

Suasana POS 2 hiruk pikuk seperti pasar kaget.. baik wisatawan lokal maupun asing. Banyak juga yang turun setelah merayakan peringatan kemerdekaan di puncak Rinjani. Diantara kami berenam, saya memang yang paling tua dan kurang terlatih, tapi semangat untuk terus melaju dan bergerak tak pernah padam.. kami melanjutkan perjalanan kembali sampai lelah yang teramat sangat mendera.. melampaui hutan, jalan terjal, jembatan (yang entah dibangun oleh siapa) menguji tekad untuk terus berjalan menanjak dan menanjak terus.. Dan bertemu dengan POS EXTRA adalah sebuah kebahagiaan seperti menemukan emas sekarung..

Tapi perjalanan tak boleh lambat, istirahat tak bisa berlama lama.. kami harus mengejar malam datang. supaya sampai di plawangan tak gelap amat. Tapi itupun tak mudah. Tanjakan Penyesalanpun menghadang.. jalanan mulai berpasir.. langkah mulai berada dalam hitungan per sepuluh langkah.. Saya beruntung memiliki Pemandu yang sangat sabar dan terus menyemangati. Seorang anak muda bernama Awan, tapi pengalaman menghantarkan tamu membuat dia pandai menentramkan hati ketika keluhan keluhan terus terdengar. Tak lupa juga teman terbaik di perjalanan Rudi Rohmansyah menyemangati selalu.. Sedang teman teman yang lain : Nina Anjani, Sonia, Penny Sitoresmi dan Dev sudah tak terkejar lagi. Mereka memang memiliki cadangan energi yang luar biasa..

Serasa mimpi .. pada akhirnya saya pukul 10 malam bertemu juga dengan POS Plawangan.. walau hari sudah cukup larut. Gelap malam harus diterjang, supaya segera badan bisa rebah di tenda untuk disimpan di esok hari.. Tenda tenda berjajar sepanjang jalan sekitar Plawangan Sembalun terpasang dan para pendaki sudah menyalakan api .. suasana yang syahdu sudah nyaris tak lagi dapat dinikmati.. kedatangan saya disambut oleh rekan Dev bak pejuang yang datang dari medan laga.. Rasa syukur yang saya panjatkan.. lelah itu memang sudah semestinya tapi tekad dan semangat untuk melanjutkan perjalanan esok hari…

By: Sitawati Ken Utami

Foto koleksi SKU

Photo courtesy : Penny Sitoresmi, Sonia

Lessons learned

Mengembangkan hutan sebagai wahana wisata alam merupakan salah satu upaya yang komprehensif dalam melestarikan hutan dan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal