Karakter dan Rutinitas: Modal Sustainability?

Kapal klotok di sungai Sekonyer
November 26, 2018
Situs Megalitikum Cibalay Bogor, harta karun yang tersembunyi
November 26, 2018
Oleh: Happy Tarumadevyanto
Karakter bangsa atau kelompok yang kita bina, harus mampu melihat visi pengelolaan berkelanjutan dari tata cara dan kebiasaan sehari-hari. Dalam rangka tata kelola lestari, kita perlu mengedepankan manajemen sumberdaya yang meliputi sumberdaya manusia, alam sekitar dan sumber-sumber lain untuk memobilisasi kegiatan yang menuju “keberlanjutan” . 
Proses pengelolaan sumberdaya yang lestari, perlu mempersiapkan sumberdaya pengelola yang mapan dan paham prinsip-prinsip lestari. Semisal memahami daya dukung lingkungan alam sekitar sehingga tidak memacu produksi pada keadaan yang stress/tertekan.
Rutinitas adalah hal biasa
Kadang kita heran, mengapa di dunia ini begitu banyak hal yang dapat dilakukan, namun kita juga perlu mengasah diri sendiri dengan menjalankan hal-hal rutinitas. Hal-hal rutinitas adalah upaya memfokuskan diri kita pada kegiatan khusus untuk mempertajam kegiatan dan mengkhususkan diri pada aktivitas yang menjadi keahlian kita. Itu adalah kebiasaan. 
Hal-hal rutinitas itu membuat kita mengasah diri dan meningkatkan ketajaman bertindak kita. Rutinitas akan berdampak pada kebiasaan dan tata carakita dalam menangani suatu kegiatan dan untuk mencapai tujuan tertentu. Masyarakat adat yang tinggal dan sudah turun temurun tinggal di suatu tempat memiliki rutinitas bercocok tanam, berinteraksi antar sesama masyarakat adat dalam mengelola sumberdaya alamnya. Kegiatan berkesinambungan tersebut tercermin dari adat istiadat dan keseharian mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari untuk rumah tangga maupun kelompok mereka. 
Demikian juga dengan masyarakat agraris yang rutin berkegiatan sehari-hari dengan bertani dan bercocok tanam untuk memperoleh penghasilan dari bercocok tanam tersebut. 
Bila rutinitas tidak dilakukan lagi, bisa jadi orang yang melakukan rutinitas tersebut sedang melakukan transformasi atau berubah kebiasaannya. Semisal orang yang biasa bercocok tanam, tiba-tiba tidak bisa lagi melakukan rutinitas nya tersebut karena lahan tempatnya “berpijak” dan “mencari nafkah” terpakai untuk kepentingan lain. 
Banyak kejadian bahwa lahan tempat masyarakat lokal “berpijak” mengalami perpindahan tangan karena kebijakan top down yang belum melihat secara nyata kehidupan mereka sehari hari. 
Banyak hal yang perlu dilakukan namun jangan lupa juga dengan rutinitas itu. Pentingnya kegiatan yang bersifat rutinitas juga perlu disertai kegiatan yang penuh visi ke depan yaitu visi pengelolaan lestari. Visi sustainable .