By A Web Design

Visitor Map

Visitors Counter

mod_vvisit_counterPengunjung hari ini47
mod_vvisit_counterTotal pengunjung413368

whosonline

Ada 9 tamu online
Peran Serta Masyarakat Kunci Sukses Rehabilitasi Hutan
Ditulis oleh LATIN   
Rabu, 01 April 2015 11:25

Lahan Hutan Rehabilitasi seluas 7 Hektar yang ditanami masyarakat petani hutan Desa CurahnongkoJember – Program Rehabilitasi lahan kritis hutan di kawasan Taman Nasional Meru Betiri seluas 7 hektar, menjadi contoh sukses rehabilitasi lahan kritis hutan untuk kawasan lain di Indonesia. Rehabilitasi hutan yang melibatkan masyarakat desa di sekitar hutan, terbukti mampu menghijaukan kembali lahan kritis yang semula, serta mencegah upaya pembalakan kayu hutan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Keterlibatan masyarakat dalam menjaga serta melestarikan hutan sangatlah penting, ditengah minimnya upaya pemerintah serta aparatur terkait dalam menjaga kelestarian hutan. Program rehabilitasi yang ditetapkan melalui kemitraan antara Taman Nasional Meru Betiri dengan masyarakat, merupakan solusi penanganan lahan kritis seluas 4.023 hektar. Dengan menanam tanaman yang menghasilkan tanaman ekonomi dan berdimensi konservasi oleh masyarakat, keberlanjutan pengelolaan kawasan sekaligus perekonomian masyarakat melalui pemanfaatan lahan rehabilitasi dapat tetap terjaga.

Menurut Nurhadi selaku Direktur Konservasi Alam Indonesia Lestari (KAIL), LSM yang didirikan dari dan oleh masyarakat setempat, kegiatan rehabilitasi lahan merupakan cara yang efektif untuk menjaga serta melestarikan hutan, karena didalamnya juga berlangsung proses penguatan ekonomi masyarakat, melalui pemanfaatan lahan serta tanaman hutan tanpa harus menebang pohon.

“Masyarakat dapat menghasilkan tanaman tumpangsari disamping tanaman pokok hutan yang ditanam. Ini agar masyarakat aktif melakukan kegiatan rehabilitasi hutan di lahan rehabilitasi, serta mengelola dan mendapatkan hasilnya untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar Nurhadi.

Abdul Halim Fanani, tokoh masyarakat sekaligus penggerak petani hutanProgram Rehabilitasi lahan kritis di kawasan Taman Nasional Meru Betiri oleh masyarakat, dimulai dengan pemberian ijin penggunaan lahan seluas 7 hektar dari Taman Nasional kepada masyarakat desa yang tinggal di pinggir hutan. Masyarakat diperbolehkan menanami lahan milik Taman Nasional, dengan tanaman pokok dan tanaman tumpang sari. Lahan yang digarap masyarakat tetap milik Taman Nasional, sedangkan masyarakat hanya memiliki hak mengelola.

Diungkapkan oleh Abdul Halim Fanani, warga Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, sebelum lahan kritis di kawasan rehabilitasi digarap masyarakat, kondisi lahan masih gundul dan belum ditanami. Setelah masyarakat dilibatkan untuk merehabilitasi lahan, kawasan yang semula gundul menjadi hijau dan rimbun oleh tanaman pokok hutan serta tanaman petani.

“Setelah lahan digarap masyarakat, masyarakat menerima manfaar dari tanaman tumpang sari, sedangkan Taman Nasional menerima manfaat dari tanaman pokoknya, artinya pohonnya ada lagi,” tutur Abdul Halim yang berharap sinergi semacam ini dapat terus terbina.

Kawasan konservasi seperti Taman Nasional Meru Betiri, memang memiliki aturan bilamana terdapat pemanfaatan didalamnya. Legalitas itulah yang dirasa oleh Abdul Halim sangat penting bagi masyarakat selaku petani hutan, agar dapat mengelola dan merehabilitasi hutan tanpa khawatir akan berurusan dengan hukum.

“Legalitas, dimana masyarakat diberikan hak resmi tertulis untuk mengelola hutan. Kalau bicara konservasi itu sangat kaku, tapi pertanyaannya mampukah pemerintah kita melakukan itu. Maka alternatifnya adalah keterlibatan masyarakat dalam membantu konservasi,” kata Abdul Halim yang sehari-hari bertugas sebagai Kepala Urusan Keamanan Desa.

Setomi menunjukkan patok batas Taman Nasional Meru Betiri dengan lahan rehabilitasi yang dikelola masyarakatTingkat pendidikan masyarakat desa yang masih tergolong rendah, bukanlah halangan untuk tidak peduli dengan persoalan lingkungan, termasuk mengenai konservasi hutan. Bahkan sejarah terjadinya penjarahan kayu di hutan pasca bergulirnya reformasi, tidak serta merta membuat masyarakat tidak lagi memiliki kepedulian untuk melakukan rehabilitasi hutan.

Awal mulanya Abdul Halim Fanani bersama rekan-rekannya tidak memiliki ketertarikan terhadap persoalan lingkungan, karena belum memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai lingkungan. Perkenalannya dengan Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) menjadi awal kepeduliannya dengan hutan yang ada di sekitar desanya, khususnya kawasan hutan yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri.

“Masyarakat tidak serta merta mau ikut apalagi ini terkait dengan lingkungan, yang harus memberi pemahaman mengenai dampak ketika hutan terbakar atau gundul, maka masyarakat yang tinggal dekat dengan hutan adalah kuncinya,” kata Abdul Halim Fanani, warga Desa Curahnongko.

Dikatakan oleh Direktur KAIL, Nurhadi, dikedepankannya program rehabilitasi hutan melalui kemitraan Taman Naisonal dengan masyarakat, menjadi harapan kembalinya kelestarian hutan sekaligus kesejahteraan bagi masyarakat.

“Tentu yang diharapkan oleh masyarakat agar hutan lestari dan masyarakat sejahtera, masyarakat dapat menanam tanaman yang menghasilkan tanaman ekonomi dan berdimensi konservasi. Dari situ ada keberlanjutan pengelolaan kawasan dan ekonomi masyarakat, dimana masyarakat bisa memanen buah di lahan yang dia tanam di lahan rehabilitasi,” papar Nurhadi.

Salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil rehabilitasi lanjut Nurhadi, diwujudkan masyarakat petani hutan dalam bentuk koperasi, yang bernama Multi Usaha Lestari. Koperasi itu dijadikan media untuk mengakomodir dan mengelola pemasaran dari hasil yang diperoleh petani di lahan rehabilitasi.

“Saat ini petani sudah bisa mengelola hasil dari lahan rehabilitasi berupa keripik nangka. Kalau buah nangka dulunya dijual seperti biasa itu kurang menguntungkan, dengan dijadikan keripik nangka bisa mendatangkan nilai lebih,” papar Nurhadi. Proses pengolahan kripik nangka di Koperasi sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil tanaman yang diperoleh petan

Selain keripik nangka juga ada hasil buah-buahan lainnya serta buah hasil pohon hutan seperti kemiri, kedawung, dan pakem. Ibu-ibu rumah tangga juga turut memanfaatkan tanaman hasil hutan rehabilitasi seluas 7 hektar, dalam bentuk pengolahan dan pembuatan jamu tradisional dari tanaman obat.

“Dari pekarangan dan di lahan rehabilitasi serta di dalam hutan kami memperoleh kapulogo, kemukus, cabe jawa, ada juga kayu rapat. Kami bersyukur karena orang yang sakit dan tidak dapat sembuh secara medis dapat diobati dan sembuh dengan ramuan Toga (tanaman obat keluarga),” ujar Katemi, Ketua Kelompok Toga Sumber Waras, Desa Andongrejo.

Dari budidaya tanaman obat di hutan rehabilitasi maupun di pekarangan, tidak hanya mampu membantu penyembuhan sejumlah penyakit, perekonomian keluarga juga menjadi meningkat dengan penjualan jamu tradisional. Sedikitnya ada 70 jenis tanaman obat yang berhasil dibudidayakan di pekarangan rumah warga, dari total 300-350 bibit tanaman obat yang tumbuh di hutan serta lahan rehabilitasi.Cabai Jawa, salah satu tanaman obat yang ditanam masyarakat di lahan rehabilitasi

“Manfaat obat dari Taman Nasional Meru Betiri cukup membantu, baik untuk menyembuhkan penyakit maupun menambah pendapatan dari menjual jamu,” tambah Katemi yang mengaku telah menerima pesanan jamu tradisional dari berbagai daerah dan luar pulau Jawa.

Kerjasama antara Taman Nasional dengan masyarakat desa pinggir hutan juga dirasakan manfaatnya oleh pihak Taman Nasional. Kepala Resort Andongrejo, Taman Nasional Meru Betiri, Heman Sutresna mengatakan, kerjasama pengelolaan hutan di lahan rehabilitasi telah banyak membantu Taman Nasional menghijaukan kembali kawasan yang kritis.

“Pasca reformasi terjadi penjarahan kayu secara besar-besaran di Meru Betiri, dengan merintis kegiatan rehabilitasi kawasan hutan yang kritis bersama masyarakat, tugas kami dalam menjaga hutan menjadi terbantu,” kata Heman Sutresna.

Terdapat 4 desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Meru Betiri, yaitu Desa Curahnongko, Andongrejo, Sanenrojo, dan Wonoasri, dimana terdapat 24 kelompok petani hutan di Desa Curahnongko dan 18 kelompok petani hutan di Desa Andongrejo, yang diajak bekerjasama mengembalikan fungsi hutan.

Pada seluruh kawasan Taman nasional Meru Betiri yang masih perlu direhabilitasi, tercatat seluas 2.773 hektar berdasarkan review zonasi yang dilakukan pada tahun 2011.Jamu tradisional buatan ibu-ibu di Desa Andongsari, mampu mengobati dan meningkatkan perekonomian

“Dari semua upaya yang telah kita lakukan, masih ada 60 persen lahan kritis yang belum direhabilitasi, peran masyarakat sangat penting bagi kami karena mereka sangat membantu menghijaukan kembali lahan yang kritis,” ujarnya.

Heman Sutresna mengungkapkan, kendala yang dihadapi hingga kini adalah pemahaman masyarakat yang masih suka menanam tanaman pertanian, yang mendatangkan keuntungan untuk jangka pendek. Sedangkan tanaman hutan justru dapat mendatangkan nilai ekonomis yang lebih tinggi, dengan memanen buah tanaman pokok tanpa biaya perawatan.

“Belum semua masyarakat menyadari pentingnya melestarikan hutan, banyak juga yang kurang peduli, diberi bibit gratis tapi gak mau nanam. Kami memberikan pemahaman bahwa menanam untuk masa depan, tidak hari ini tapi paling tidak 5 tahun baru bisa dinikmati hasilnya,” tutur Heman.

Selain minimnya sumber daya yang dimiliki Taman Nasional, Heman menambahkan bahwa belum semua masyarakat peduli terhadap pelestarian dan rehabilitasi hutan. Persoalan pendidikan masyarakat yang masih rendah serta alasan ekonomi menjadikan upaya rehabilitasi hutan berjalan lambat.

Namu demikian, kelompok masyarakat petani hutan seperti di Curahnongko dan Andongrejo menurut Heman, menjadi contoh yang baik dalam rangka menyadarkan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat, mengenai konservasi yang mendatangkan keuntungan bagi perekonomian masyarakat.Kepala Resort andongrejo, TN Meru Betiri, Heman Sutresna (baju hijau) bersama pengunjung yang akan menjelajah TN Meru Betiri

“Masyarakat sekitar hutan adalah yang paling terdampak bila hutan gundul dan rawan bencana. Kami berharap banyak masyarakat di sekitar kawasan hutan lainnya, ikut terlibat dalam upaya pelestarian serta rehabilitasi hutan dan tetap memperoleh keuntungan,” tandasnya.

Fasilitator dari LATIN, Kaswinto menambahkan, model pengelolaan lahan kritis melalui program rehabilitasi 7 hektar di Curahnongko dan Andongrejo, dapat dijadikan contoh pemanfaatan lahan kritis lainnya di hutan. Model pelibatan masyarakat untuk menanami lahan kritis, juga menjadi cara efektif bagi pemerintah untuk menjaga hutan dari penebangan liar seperti sebelumnya.

“Buktinya saat yang lain ditebangi, tidak ada satu pun pohon yang ditebang di lahan 7 hektar yang dikelola petani. Ini bukti masyarakat sebenarnya mampu ikut menjaga hutan, asalkan masyarakat juga diperkenankan mengambil manfaat dari hutan,” pungkas Kaswinto.

Penulis : Riski Srilambang; http://www.duniakitanews.com ; 20 Maret 2015

 

Kirim Komentar


Kode keamanan
Refresh