By A Web Design

Visitor Map

Visitors Counter

mod_vvisit_counterPengunjung hari ini11
mod_vvisit_counterTotal pengunjung415905

whosonline

Ada 5 tamu online
Melestarikan Hutan dengan Memelihara Kuliner Lokal
Ditulis oleh Abdullah   
Senin, 20 Mei 2013 11:45

Rawon, kuliner khas Jawa Timur (dok. pribadi)Mungkin sebagian kita sudah membayangkan kondisi hutan Indonesia yang tak lama lagi akan makin menyusut. Beberapa data menyebautkan hal-hal yang fantastis tentang kehilangan sumberdaya alam kita berupa hutan yang makin memprihatinkan.  Ada yang menyebutkan hutan Kalimantan akan musnah dalam waktu 10 tahun lagi, hutan Sumatera tak lagi ada dalam 5 tahun lagi dan tiap 2 menit hutan kita menyusut seluas lapangan bola.

 

Data dan prediksi di atas boleh-boleh saja ditampilkan dan disebarluaskan agar masyarakat menyadarari ancaman. Namun hanya dengan ancaman, masyarakat Indonesia tak serta merta bisa berubah, sadar dan kemudia bertindak menyelamatkan hutan. Justru sebaliknya, menggali sebanyak mungkin manfaat hutan yang menyentuh kebutuhan dasar manusia aka lebih baik hasilnya untuk menarik partisipasi masyarakat melestarikan hutan. Salah satu hal unik dalam melestarikan hutan adalah dengan menjadikan hutan sebagai pusat tumbuhnya bahan baku kuliner khas daaerah setempat. Menarik bukan? Anda perlu bukti?

 

Anda pernah mencicipi kripik Nangka? Menyukai pecel dan rujak cingur  ala Jawa Timur? Suka nasi rawon? Demen dengan sayur nangka muda? Semua masakan dan jajanan khas tersebut dapat Anda temui dengan mudah di Kecamatan Ambulu dan Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember Jawa Timur. Di dua kecamatan yang dekat dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), terdapat dua desa penghasil bahan-bahan untuk meracik dan membuat makanan-makan tersebut yaitu Desa Curahnongko.

 

 

 

Hutan di Taman Nasional Meru Betiri sebagai sumber bahan baku kuliner lokal (dok. AST)Desa Curahnongko Kecamatan Tempurejo adalah desa yang berbatasan langsung dengan TNMB. TNMB merupakan salah satu kawasan Suaka Alam yang peruntukannya untuk area pelestarian keanekaragaman hayati. Di areal TNMB dijumpai banyak sekali flora dan fauna khas yang dilindungi oleh Undang-undang. DI dalam TNMB program konservasi ekosistem secara keseluruhan juga dijalankankan secara pastisipatif bersama masyarakat.

 

Melalui pendekatan partisipatif yang difasilitasi oleh LSM KAIL (Konservasi Alam Indonesia Lestari), zona Rehabilitasi Kawasan TNMB dikelola oleh masyarakat dari berbatasan langsung  dengan kawasan. Dulunya zona Rehabilitasi TNMB adalah areal Perum Perhutani yang pada tahun 1998 mengalami perambahan dan penebangan liar sehingga mengalami degradasi berat. Melalui kerjasama berbagai lembaga termasuk oleh LSM skala Nasional LATIN (Lembaga Alam Tropika Indonesia), lembaga dunia ITTO (International Timber Trade Organization), Jaringan perusahaan 7&i Holding dari Jepang, dan donatur perorangan, kini areal tersebut sudah menghijau.

 

Tak hanya menghijau, masyarakat mendapat banyak keuntungan dari pengelolaan zona rehablitasi TNMB. Mereka bisa menikmati hasil panen berupa tanaman tumpan sari antara tanaman katu, pangan dan obat-obatan. Mereka juga mendapat pembinaan untuk  mengolah hasil tanaman menjadi barang dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Masyarakat Curahnongko dan sekitarnya juga mendapat rezeki lain dengan banyaknya homestay yang ramai ditinggali para wisatawan lokal dan asing yang akan berkunjung ke TNMB.

 

Saya sendiri yang saat itu (Meii 2012) melakukan pendampingan dalam pemetaan sebaran tanaman di zona rehabilitasi TNMB di dekat desa Curah Nongko menemukan dengan mudah tanaman-tanaman yang menjadi bahan baku kuliner khas Jawa Timuran. Ada pohon Kluwek yang buahnya bisa digunakan untuk bumbu Rawon. Karena nama desa ini Curahnongko, tentu saja nangka menjadi andalan bagi perekonomian warga. Bila musim buah nangka tiba, banyak warga memanen untuk dijual buahnya atau ada yang mengolahnya jadi Kripik Nangka. Bila buah nangka masih muda, masyarakat memanen untuk digunakan menjadi sayur nangka muda atau campuran pecel.

 

Selain pepohonan yang ditanam di areal Zona Rehabilitasi, dibawah tegakan pohon dijumpai tanaman semusim secara tumpang sari. Ada kacang panjang, singkong, kangkung, timun dan cabe. Semua tanaman menjadi bahan baku bagi tersedianya menu masakan kesukaan dan kebanggan masyarakat Jember di warung-warung makan.

 

“Wah, kalau nggak ada hutan, gak bisa makan nasi rawon, nih, Mas.” Ungkap saya pada Pak Budi, salah satu aktifis KAIL.

 

“Hahaha....Bener itu, Pak.” Jawab Mas Budi sambil tertawa dan melanjutkan menyantap Nasi

Rawon kesukaan, menu kesukaan kami berdua di salah satu warung di Ambulu Jember.

 

Pendekatan partisipatif melalui penggalian manfaat dan pengelolaan hutan bersama  yang menyentuh kebutuhan dasar manusia dicontohkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNMB. Lewat kuliner, hutan terjaga. Hutan lestari penikmat kuliner lokal berseri.

 

Salam lestari!

 

Kirim Komentar


Kode keamanan
Refresh