By A Web Design

Visitor Map

Visitors Counter

mod_vvisit_counterPengunjung hari ini0
mod_vvisit_counterTotal pengunjung421720

whosonline

Ada 23 tamu online
Perdagangan Karbon Bisa Libatkan Petani
Ditulis oleh Artha Senna_Green Radio 89,2 fm   
Kamis, 04 Oktober 2012 12:40

REDD (Reducing Emission from Deforestattion and Degradation) menjadi salah satu agenda utamna yang dibicarakan dalam Konferensi tingkat Tinggi para Pemangku Kepentingan (COP) tentang perubahan iklim. Program REDD yang paling besar adalah mendorong negara-negara maju membayar kepada negara-negara berkembang agar mencegah terjadinya penggundulan hutan. Indonesia sendiri berupaya untuk menurunkan 26 persen gas emisinya.

Soal dana deforestasi bagi negara berkembang menurut Bank Dunia tiap tahunnya ada sekitar 2 – 20 miliar dolar Amerika. Dan dana inilah yang bisa diserap secara langsung bagi Indonesia karena hutan di republik ini memiliki potensi yang sangat besar dalam menyerap karbon. Indonesia masih memiliki sekitar 88 juta hektar hutan yang bisa dimanfaatkan dalam perdagangan karbon.

“Dengan skema perdagangan karbon lokal dapat memberikan apresiasi kepada petani pengelola hutan. Masyarakat petani itu dilibatkan dalam menurunkan emisi dengan cara mencegah dan menangani illegal loging, kebakaran hutan dan mencegah perambahan. Sebaliknya mereka diajak untuk menanam dan merehabilitasi hutan,” kata Arif Aliadi, Direktur  Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) saat diskusi Perdagangan Karbon, Selasa (22/5) lalu di Jakarta yang digagas LATIN dan Perkumpulan Skala.

Arif menambahkan, produsennya adalah petani pengelola hutan dan calon pembelinya adalah perusahaan atau individu atau kelompok masyarakat.  “Hal itu sudah dilakukan oleh Koperasi Sedyo Makmur di Gunung Kidul, Jawa Tengah yang mengelola hutan negara seluas 115 hektar dan telah menghitung cadangan karbon sebesar 3.603 ton. Atau di zoan rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri yang dikelola 750 petani di Desa CurahNongko di Jawa Timur.” Sedangkan konsumennya adalah perusahaan atau individu dan kelompok masyarakat.

Potensi perdagangan carbon lokasl, tambah Arif, sangat besar yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan skala nasional. “Yang terpenting adalah harus ada mekanisme yang adil baik bagi dunia usaha yang terlibat dan juga komunitas sebagai penyedia sumberdaya,” tegas Arif.

 

Kirim Komentar


Kode keamanan
Refresh