By A Web Design

Visitor Map

Visitors Counter

mod_vvisit_counterPengunjung hari ini0
mod_vvisit_counterTotal pengunjung421720

whosonline

Ada 25 tamu online
Masyarakat Lokal pun Bisa Terlibat Perdagangan Karbon
Ditulis oleh Zika Zakiyah_National GeoGraphic_Mei 2012   
Rabu, 03 Oktober 2012 13:55

Contoh peran masyarakat lokal terjadi di Koperasi Sedyo Makmur di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perdagangan karbon (carbon trading) selama ini hanya bisa dilakukan oleh Pemerintah, organisasi internasional, dan perusahaan. Sertifikat penurunan emisi dan peningkatan cadangan karbon adalah yang diperdagangkan di sini. Namun, tidak mudah meraihnya karena harus diperoleh melalui lembaga internasional yang sudah mengembangkan standard yang diakui secara internasional.

Selain itu, nilainya pun cukup mahal jika ditanggung oleh pihak individu. Padahal, menurut Arif Aliadi sebagai Direktur Lembaga Alam Tropika Indonesia (Latin), carbon trading tidak perlu serumit itu. Masyarakat petani hutan pun bisa turut andil dalam transaksi ini. Apalagi mereka sudah terbiasa merawat hutan dengan cara mencegah dan menangani kebakaran hutan serta rehabilitasi pepohonan.

"Menurunkan emisi dan peningkatan cadangan karbon sudah jadi bagian dari masyarakat. Tapi selama ini tidak dianggap sebagai carbon trading, tidak ada insentif untuk mereka," kata Arif dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (22/5)

Latin mencoba menangani masalah ini dengan mendirikan proyek program perdagangan karbon oleh komunitas. Tujuannya untuk meningkatkan peran masyarakat dalam mengurangi gas emisi. "Belum ada pengakuan masyarakat sebagai pelaku utama, sebagai inisiasi pelaku perdagangan."

Contoh peran masyarakat lokal terjadi di Koperasi Sedyo Makmur di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka mengelola hutan negara seluas 115 hektare dengan skema Hutan Kemasyarakatan (HKM) dengan perhitungan cadangan karbon yaitu 3.603 ton.

Puji Rahardjo dari Java Learning Center (Javlec) menyatakan, jika harga per hektarenya bisa diperkirakan US$3 atau sekitar Rp28 ribu-an. Dengan demikian, masyarakat anggota Koperasi Sedyo Makmur sebanyak 254 KK bisa mendapat insentif sebesar Rp300 juta-an.

"Petani hutan yang terlibat bisa mendapat keringanan Puskesmas, kemudahan akses pendidikan untuk anak-anak, dan diskon di warung khusus untuk sembako," kata Puji.

Sayangnya hingga sekarang, belum ada pihak yang bersedia membeli cadangan karbon dari Koperasi Sedyo Makmur. Sebab, dari 15 metodelogi perhitungan carbon trading, belum ada satu pun yang bisa digunakan menghitung apa yang dimiliki masyarakat Gunung Kidul ini.

"Metodelogi yang standar agak sulit dipenuhi masyarakat (Gunung Kidul) karena kebutuhannya masih standar internasional," kata Puji yang menambahkan jika perusahaan BUMN bisa jadi alternatif pembeli sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR).

 

Masyarakat Lokal pun Bisa Terlibat Perdagangan Karbon

Contoh peran masyarakat lokal terjadi di Koperasi Sedyo Makmur di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

pemanasan global, karbon, fotosintesisYudasavitra/Fotokita.net

Perdagangan karbon (carbon trading) selama ini hanya bisa dilakukan oleh Pemerintah, organisasi internasional, dan perusahaan. Sertifikat penurunan emisi dan peningkatan cadangan karbon adalah yang diperdagangkan di sini. Namun, tidak mudah meraihnya karena harus diperoleh melalui lembaga internasional yang sudah mengembangkan standard yang diakui secara internasional.

Selain itu, nilainya pun cukup mahal jika ditanggung oleh pihak individu. Padahal, menurut Arif Aliadi sebagai Direktur Lembaga Alam Tropika Indonesia (Latin), carbon trading tidak perlu serumit itu. Masyarakat petani hutan pun bisa turut andil dalam transaksi ini. Apalagi mereka sudah terbiasa merawat hutan dengan cara mencegah dan menangani kebakaran hutan serta rehabilitasi pepohonan.

"Menurunkan emisi dan peningkatan cadangan karbon sudah jadi bagian dari masyarakat. Tapi selama ini tidak dianggap sebagai carbon trading, tidak ada insentif untuk mereka," kata Arif dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (22/5).

Latin mencoba menangani masalah ini dengan mendirikan proyek program perdagangan karbon oleh komunitas. Tujuannya untuk meningkatkan peran masyarakat dalam mengurangi gas emisi. "Belum ada pengakuan masyarakat sebagai pelaku utama, sebagai inisiasi pelaku perdagangan."

Contoh peran masyarakat lokal terjadi di Koperasi Sedyo Makmur di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka mengelola hutan negara seluas 115 hektare dengan skema Hutan Kemasyarakatan (HKM) dengan perhitungan cadangan karbon yaitu 3.603 ton.

Puji Rahardjo dari Java Learning Center (Javlec) menyatakan, jika harga per hektarenya bisa diperkirakan US$3 atau sekitar Rp28 ribu-an. Dengan demikian, masyarakat anggota Koperasi Sedyo Makmur sebanyak 254 KK bisa mendapat insentif sebesar Rp300 juta-an.

"Petani hutan yang terlibat bisa mendapat keringanan Puskesmas, kemudahan akses pendidikan untuk anak-anak, dan diskon di warung khusus untuk sembako," kata Puji.

Sayangnya hingga sekarang, belum ada pihak yang bersedia membeli cadangan karbon dari Koperasi Sedyo Makmur. Sebab, dari 15 metodelogi perhitungan carbon trading, belum ada satu pun yang bisa digunakan menghitung apa yang dimiliki masyarakat Gunung Kidul ini.

"Metodelogi yang standar agak sulit dipenuhi masyarakat (Gunung Kidul) karena kebutuhannya masih standar internasional," kata Puji yang menambahkan jika perusahaan BUMN bisa jadi alternatif pembeli sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR).
(Zika Zakiya)

Komentar


Add New Comment

Showing 0 comments

Reactions

Trackback URL

Berita Terkait


Berita Lainnya


Majalah

Edisi Oktober 2012

Langganan →
  • Elegi Energi Nusantara

    Elegi Energi Nusantara

    Di tengah silang-sengkarut pengelolaan, bagaimana masa depan energi?

  • Ikram Gading

    Ikram Gading

    Ribuan gajah tewas agar gadingnya menjadi benda religius. Dapatkah...

  • Daun nan Agung

    Daun nan Agung

    Ada pula kalanya adikarya tergantung di pohon atau berjulai di ujung...

  • Muslihat Rio

    Muslihat Rio

    Rio adalah kota gemerlap, sekaligus memiliki favela yang miskin dan keras.

  • Gua-Gua Langit di Nepal

    Gua-Gua Langit di Nepal

    Gua tebing di bekas wilayah Kerajaan Mustang menyingkap rahasianya.

  • Meso nan Memesona

    Meso nan Memesona

    Karang Mesoamerika di Amerika Tengah jauh lebih menawan daripada sepupunya...

Indeks Feature →

Masyarakat Lokal pun Bisa Terlibat Perdagangan Karbon

Contoh peran masyarakat lokal terjadi di Koperasi Sedyo Makmur di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Kirim Komentar


Kode keamanan
Refresh