By A Web Design

Visitor Map

Visitors Counter

mod_vvisit_counterPengunjung hari ini0
mod_vvisit_counterTotal pengunjung421720

whosonline

Ada 22 tamu online
LATIN dan KAIL Membuat KARTU PINTAR untuk Apreasiasi Pelestari Hutan
Ditulis oleh Achmad Siddik Thoha   
Kamis, 27 September 2012 20:52

 

Di sebuah pedalaman Kalimantan, seorang dokter bekerja dengan penuh dedikasi. Selain melayani masyarakat berobat dan memotivasi hidup sehat, dokter juga melakukan hal lain yang sangat mulia. Sang dokter yang mendirikan klinik kesehatan juga meringankan biaya bagi masyarakat yang melestarikan hutan. Sebuah tindakan yang unik namun sangat mengena. Masyarakat dimotivasi melestarikan hutan dengan cara mendapat layanan spesial ketika mereka berobat. Dalam arti lain Sang Dokter ini telah memberikan apresiasi dalam bentuk layanan kesehatan pada warga yang telah ikut serta memelihara hutan.

Ide sang dokter ini ternyata menginspirasi Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) untuk mengadopsi model apresiasi layanan kesehatan menjadi sebuah insentif model baru bagi masyarakat yang memiliki peran dalam melestarikan hutan. Model insentif atau apresiasi bagi jerih payah masyarakat yang secara swadaya ikut melestarikan hutan kemudian mulai dikembangkan LATIN bersama beberapa kelompok masyarakat di beberapa desa disekitar Kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kabupaten Jember Jawa Timur. Tidak hanya apresiasi pada pelayanan kesehatan pada masyarakat yang melestarikan hutan, LATIN bersama KAIL (Konservasi Alam Indonesia Lestari), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal, menambahkan apresiasi pada layanan pendidikan dan insentif ekonomi.

Selama ini model insentif bagi masyarakat yang mau ikut terlibat dengan pelestarian hutan hampir semuanya dalam bentuk bantuan uang tunai. Misalnya, pemberian biaya perawatan pohon per tahun selama beberapa tahun sebesar sekian rupiah. Sebut saja program Adopsi Pohon, Pohon Asuh, Donasi Pohon dan insentif lain yang berujung pada hibah uang untuk pemeliharaan pohon baik di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Dengan model apresiasi yang dikembangkan oleh LATIN, diharapkan bisa lebih tepat sararan dan menyentuh langsung pada kebutuhan dasar masyarakat.

Ide apresiasi bagi upaya rehabilitasi hutan ini tidak mengalami banyak kendala dalam sosialisasi di masyarakat. Menurut Arif Aliadi, Direktur LATIN menyatakan bahwa penerimaan ide apresiasi ini melalui beberapa tahap. Awalnya ide ini disosialisasikan kepada petani yang sudah berhasil merehabilitasi hutan sejak tahun 1994 dan tahun 2001 dengan total penerima sebanyak 50 orang.”  Pada lokasi yang ditanam sejak tahun 1994, lahan yang berhasil dihutankan kembali seluas tujuh hektar dan saat ini menjadi demonstration plot (demplot) bagi kegiatan Rehabilitasi Hutan di Zona Rehabilitasi TNMB. Kemudian sosialisai dilanjutkan kepada para istri dari 50 orang petani yang merehabilitasi hutan tersebut. Sosialisasi kemudian makin meluas hingga menjangkau kepada petani yang lahan di area rehabilitasinya relative kosong dan belum rimbun.

 

Kawasan Rehabilitasi yang berhasil di TNMB Curahnongko Jember

Kawasan Rehabilitasi yang berhasil di TNMB Curahnongko Jember


Bagaimana respon petani dengan tawaran model insentif ini?  “Petani yang mendapat apresiasi sangat senang sekali karena mereka merasa pekerjaan menanam dan memelihara pohon selama ini dihargai. Demikian juga bagi petani lain yang belum mendapat apresiasi, mereka mendapat motivasi untuk bisa menghutankan lahannya,” ungkap Arif, pria yang selama puluhan tahun aktif memberdayakan kelompok pengelola hutan komunitas Indonesia

Untuk memberikan apresiasi kepada para petani yang berhasil menghutankan kembali lahan yang kritis di TNMB, LATIN memiliki kriteria yang mudah namun obyektif. Apresiasi akan diberikan kepada petani yang sudah berhasil merehabilitasi lahan.  LATIN bersama LSM lokal  sudah mengidentifikasi tingkat keberhasilan rehabilitasi dan mengelompokkannya mulai Kelas 1- 6. Kriteria Kelas1 adalah lahan masih kosong dari pepohonan atau masih ditumbuhi oleh semak belukar dan alang-alang.  Adapun Kelas 6 mencerminkan lahan yang sudah dipadati oleh pepohonan dan kondisi pepohonan sudah besar-besar dan tinggi, sehingga sepintas sudah mirip hutan.

Proses identifikasi dan  pengelompokan lahan berdasarkan kepadatan pepohonan dilakukan sejak bulan September 2011 selama 4 bulan, dan itu hanya dilakukan di areal rehabilitasi seluas 410 ha, yang diakses atau dikelola oleh 708 petani dari Desa Curahnongko Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember.  Sementara itu data total, ada sekitar 3.000 ha lahan rehabiilitasi  yang harus diidentifikasi dan melibatkan lebih dari 5.000 petani.  Untuk tahap awal, LATIN mencoba memberi apresiasi kepada 50 orang petani yang sudah mengelola lahan Kelas 6, yaitu 43 orang petani yang sudah merehabilitasi lahan di zona rehabilitasi TNMB seluas 7 ha sejak tahun 1994, dan 7 orang petani yang merehabilitasi sejak tahun 2001.

 

Bentuk apresiasi yang dinikmati oleh petani yang telah sudah berhasil mengelola lahan hingga menjadi hutan kembali diberikan dalam beberapa bentuk. Petani yang mendapat apresiasi diberikan semacam kartu identitas yang diberi nama KARTU PINTAR. Layanan atau apresiasi yang diperoleh bagi pemegang KARTU PINTAR ini antara lain :

  1. Apresiasi ekonomi yaitu pemberian diskon atau potongan harga bagi petani untuk membeli sembako di toko yang ditunjuk.  Dengan dana yang sudah terkumpul sekarang yaitu Rp 9.000.000,- maka diskon yang diberikan masih terbatas, yaitu maksimal Rp 15.000,- sebulan untuk setiap petani, dan dapat digunakan selama 1 tahun.  Jadi, setiap petani akan menerima kartu diskon.  Kartu tersebut akan ditunjukkan kepada pemilik toko ketika petani membeli sembako.  Pemilik toko akan mencatat setiap transaksi pembelian sembako dan diskon yang diberikan.  Apabila jatah diskonnya sudah habis di akhir bulan, maka kartu diskonnya dapat diberi tanda. Program apresiasi ekonomi ini sudah dijalankan mulai tanggal 1 Juni 2012.
  2. Apresiasi pelayanan kesehatan yaitu  pemberian bantuan biaya kesehatan di Puskesmas
  3. Apresiasi pelayanan pendidikan yaitu pemberian bantuan biaya sekolah untuk anak atau cucu petani yang bersekolah tingkat SD, SMP atau SMU

Adapun Apresiasi pelayanan kesehatan dan pendidikan akan dimulai ketika akumulasi dana yang dikumpulkan sudah cukup.

Ternyata program ini mulai mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan. Dukungan untuk kegiatan identifikasi lahan rehabilitasi dan pengelompokan 6 Kelas lahan rehabilitasi diperoleh dari proyek REDD+ yang merupakan kerjasama antara Puspijak (Pusat Penelitian Perubahan Iklim dan Kebijakan Kehutanan) Kementerian Kehutanan, Pengelola TN Meru Betiri, dan LATIN (Lembaga Alam Tropika Indonesia) dan didanai oleh ITTO (International Timber Trade Organization) dan perusahaan 7&i Holding dari Jepang. Dukungan lain untuk apresiasi ekonomi diperoleh dari dana individual: 1 orang warga negara Canada, 1 orang warga negara Swedia, 11 orang warga negara Cambodia, dan 18 orang WNI.

 

Arif menambahkan bahwa di masa mendatang, LATIN memiliki harapan untuk meningkatkan luas lahan yang bisa direhabilitasi dan jumlah penerima apresiasi. LATIN memiliki proyeksi jumlah petani yang menjadi target memperoleh apresiasi ekonomi, kesehatan, pendidikan lebih kurang 5.000 orang.  Proyeksi luas lahan yang direhabilitasi lebih kurang 3.000 ha. Kegiatan-kegiatan yang dapat diberi apresiasi selain  rehabilitasi hutan juga perlindungan hutan, pengembangan pertanian organik atau kegiatan-kegiatan yang ramah lingkungan. Selain itu LATIN berharap model apresiasi rehabilitasi ini bisa direplikasi di tempat lain. Potensi lokasi yang bisa mereplikasi program ini khusunya di kawasan hutan yang dikelola masyarakat melalui skema HKM (Hutan Kemasyarakatan), Hutan Desa dan Hutan Tanaman Rakyat

 

Kirim Komentar


Kode keamanan
Refresh